MURIANETWORK.COM – Bursa saham kita kemarin sempat berhenti total. IHSG anjlok begitu dalam sampai BEI terpaksa aktifkan trading halt. Nah, di balik gejolak itu, ada satu nama yang terus disebut: MSCI.
Morgan Stanley Capital International, penyusun indeks global itu, disebut-sebut memainkan peran kunci. Mereka baru saja angkat suara soal "investability" pasar modal Indonesia. Isunya klasik sebenarnya: free float sempit, kepemilikan terlalu terkonsentrasi, plus regulasi yang dianggap belum konsisten. Tapi, timing pengangkatannya yang bikin banyak orang mengernyit.
Pengamat ekonomi Yanuar Rizky punya pandangan menarik. Menurutnya, MSCI sebenarnya sudah lama tahu persoalan struktur kepemilikan saham di sini.
"Yang jadi pertanyaan, kenapa isu ini baru diangkat ke publik sekarang, pas IHSG sedang gejolak?" ujarnya dalam sebuah diskusi di YouTube Awalil Rizky, Jumat malam lalu.
Yanuar lalu mengulik siapa sebenarnya yang jadi klien utama MSCI. Lembaga itu kan cuma jual riset. Lalu, siapa yang beli?
"Pemegang saham di atas 5 persen MSCI, sekitar 8 persen, itu Vanguard. Itu hedge fund. Di bawahnya ada BlackRock, juga hedge fund. Terus ada beberapa hedge fund lagi. Jadi ada yang di atas 5 persen sekitar 7 hedge fund," paparnya.
Dari situ, ia menyambung logikanya. Laporan dari MSCI, yang dikonsumsi para raksasa investasi global itu, bisa berubah jadi alat legitimasi untuk menekan pasar. Apalagi di tengah kondisi geopolitik yang panas.
Artikel Terkait
Kabel Semrawut di Trotoar Karet, Warga Waswas Setiap Melintas
Nishfu Syaban: Antara Anjuran dan Penolakan Ulama
Kendali Trump Tergelincir, Netanyahu Diduga Kendalikan Gedung Putih Lewat DOJ
Balochistan Berdarah Lagi: 47 Tewas dalam Serangan Terkoordinasi