jelas seorang pejabat rumah sakit dengan suara berat.
Ironisnya, serangan mematikan ini terjadi justru sehari sebelum penyeberangan Rafah gerbang Gaza ke Mesir rencananya dibuka kembali secara terbatas. Pembukaan itu sejatinya adalah bagian krusial dari fase kedua gencatan senjata yang dimediasi AS. Bagi warga Gaza yang terjepit, Rafah bukan sekadar perbatasan. Itu adalah napas, jalur penyelamatan untuk evakuasi medis yang sangat mendesak mengingat sebagian besar fasilitas kesehatan mereka kini tinggal puing.
Namun begitu, realita di lapangan bicara lebih keras. Serangan Sabtu itu adalah pengingat pahit bahwa bara konflik masih menyala. Data dari Kementerian Kesehatan Gaza mencatat korban tewas warga Palestina akibat serangan sejak gencatan dimulai 10 Oktober telah melampaui angka 500 orang.
Hingga berita ini diturunkan, otoritas militer Israel belum memberikan pernyataan atau tanggapan resmi terkait insiden terbaru ini. Keheningan mereka meninggalkan tanda tanya besar di tengah duka yang kembali menyelimuti Gaza.
Artikel Terkait
Kabel Semrawut di Trotoar Karet, Warga Waswas Setiap Melintas
Nishfu Syaban: Antara Anjuran dan Penolakan Ulama
Kendali Trump Tergelincir, Netanyahu Diduga Kendalikan Gedung Putih Lewat DOJ
Balochistan Berdarah Lagi: 47 Tewas dalam Serangan Terkoordinasi