Lalu, apa akar masalahnya? Kajian dari Dinas ESDM Aceh menyimpulkan ini adalah pergerakan tanah lambat. Coba bayangkan: material vulkanik yang mendominasi tanah, ditambah curah hujan tinggi dan lereng yang terjal. Kombinasi sempurna untuk bencana. Kawasan itu memang rentan.
Data terbaru cukup mencengangkan. Hingga 2025, luas area yang longsor sudah lebih dari 27 ribu meter persegi. Pergerakannya tak berhenti, terus merayap mendekati jalan lintas Blang Mancung–Simpang Balik. Tak heran wilayah ini masuk kategori zona rawan tinggi.
Di sisi lain, upaya penanganan sedang diupayakan. BPBD Aceh Tengah kini berkoordinasi dengan Dinas PUPR dan ESDM. Opsi relokasi jalan kembali dibahas serius.
Sementara itu, untuk keselamatan bersama, warga diimbau keras. Patuhi rambu peringatan dan jangan melewati garis pengaman yang sudah dipasang. Jalan itu mungkin terlihat biasa, tapi di bawahnya, tanah terus bergerak.
Artikel Terkait
Real Madrid Hancurkan Manchester City, Vinícius Balas Sindiran Suporter
Nyepi 2026 Jatuh pada 19 Maret, Diawali Rangkaian Ritual Sakral
Panen Raya Majalengka Capai 11,5 Ton per Hektare, Stok Beras Nasional Dipastikan Surplus
Dua Turis Asing Pembuat Konten Porno Viral Berjaket Ojol Digagalkan Kabur di Bandara Bali