Jeruk Mandarin: Kisah di Balik Simbol Keberuntungan Saat Imlek

- Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:15 WIB
Jeruk Mandarin: Kisah di Balik Simbol Keberuntungan Saat Imlek

Jeruk Ponkan mungkin yang paling populer. Ukurannya besar, kulitnya gampang dikupas, rasanya manis. Ia melambangkan keberuntungan dan kemakmuran, cocok banget jadi pusat perhatian di meja.

Ada juga Jeruk Kinno. Rasanya manis dengan sentuhan asam, kulitnya juga mudah dibuka. Kinno dianggap membawa keseimbangan, harmoni, sekaligus kebahagiaan.

Kalau suka yang manis asam kuat, ada Dekopon. Jeruk ini simbol refleksi diri, mewakili keseimbangan antara suka dan duka dalam menjalani hidup.

Jeruk Murcott terkenal sangat berair dan manis. Maknanya sederhana: kebahagiaan dan kenikmatan hidup. Pas untuk dinikmati bareng keluarga.

Yang kulitnya agak kasar dan berkerut itu Lukan. Aromanya harum, rasanya manis asam. Ia membawa harapan dan kebahagiaan.

Praktis banget, Clementine biasanya tak berbiji dan mudah dikupas. Ia melambangkan kemudahan hidup dan tentu saja, keberuntungan.

Jeruk Santang warna kulitnya keemasan, persis seperti namanya yang melambangkan kekayaan. Biasanya disajikan dalam jumlah genap sebagai lambang keharmonisan.

Berbeda dengan yang lain, Swatow berkulit tebal dan agak sulit dikupas. Rasanya tidak terlalu manis, lebih ke tekstur kenyal. Justru di situlah maknanya: ketahanan dan umur panjang.

Mikan atau Satsuma itu kecil, kulitnya tipis, rasanya segar. Ia mewakili kesederhanaan dan kebahagiaan sederhana, sekaligus harapan baru di tahun depan.

Terakhir, Tangerine atau jeruk keprok. Rasa manisnya sering dimaknai sebagai simbol kehangatan hubungan. Ia memperkuat ikatan antara si pemberi dan penerima.

Jadi, saat Anda menata jeruk mandarin tahun depan, ingatlah bahwa setiap buah membawa doa. Dari rezeki yang berlimpah, kesehatan, hingga keharmonisan keluarga. Ia lebih dari sekadar buah; ia adalah pengantar harapan untuk tahun yang lebih baik.


Halaman:

Komentar