UpScrolled Meledak, Jadi Tempat Bebas Bicara Saat TikTok Dituding Sensor

- Jumat, 30 Januari 2026 | 16:40 WIB
UpScrolled Meledak, Jadi Tempat Bebas Bicara Saat TikTok Dituding Sensor

“Saya tidak tahan lagi,” katanya.

“Saya kehilangan anggota keluarga di Gaza, dan saya tidak ingin terlibat. Jadi saya berpikir, saya sudah selesai dengan ini, saya ingin merasa berguna.”

“Saya menemukan celah di pasar. Banyak orang bertanya, kenapa nggak ada alternatif selain platform Big Tech yang suka nyensor? Ya udah, saya bikin sendiri.”

Laporan PBB tahun lalu bahkan menuduh IBM dan beberapa raksasa tech terlibat dalam apa yang disebut "genosida Israel". Sementara itu, Instagram, X, dan TikTok kerap dituding melakukan shadow ban pada konten pro-Palestina.

Klaim UpScrolled sederhana: mereka hanya moderasi konten ilegal (kaya jualan narkoba), selain itu, bebas. Algoritmanya pun sengaja tidak dirancang buat bikin orang ketagihan scroll.

“Bukan karena kami nggak bisa. Merancang algoritma seperti itu sangat mudah,” kata Hijazi. “Tapi saya nggak mau. Saya tahu dampaknya bagi mental orang, terutama anak muda.”

Feed mereka tetap kronologis, fitur yang justru sudah hilang di banyak aplikasi lain. Meski untuk Halaman Temukan, mereka masih eksperimen pakai AI untuk mengatur ulang berdasarkan perilaku pengguna.

Seberapa besar sih?

Hingga Jumat (30/1/2026), unduhan di Google Playstore sudah lebih dari 1 juta. Data Sensor Tower memperkirakan sekitar 400.000 unduhan di AS dan 700.000 secara global sejak diluncurkan Juni 2025.

Posisinya mentereng: nomor satu di App Store Apple AS, mengalahkan Threads, WhatsApp, dan TikTok sendiri. Di Google Play untuk Android, ia ada di peringkat keenam di mana TikTok masih mendominasi.

Kekhawatiran sensor di TikTok sendiri makin menjadi.

Sejak kesepakatan dengan AS berlaku, tagar TikTokCensorship langsung trending di X dan Instagram. Larangan terhadap akun Bisan Owda seolah jadi bukti bagi banyak orang. Banyak juga yang bilang kritik terhadap operasi ICE atau bahkan konten anti-Trump ikut ditekan.

Gubernur California Gavin Newsom bahkan ikut angkat bicara. Lewat unggahan di X, dia akan menyelidiki TikTok setelah ada keluhan konten pengguna ditandai ofensif karena menyebut nama Jeffrey Epstein.

Di sisi lain, para kreator TikTok mengeluh soal gangguan teknis. Video mereka sepi penayangan, unggahan jadi lambat. Entah kebetulan atau tidak, ini terjadi setelah kesepakatan bisnis pekan lalu.

Jadi, sementara satu platform dituduh membatasi suara, platform baru lainnya justru mendapat angin. Persaingan dan gejolak di dunia media sosial tampaknya masih akan panjang.


Halaman:

Komentar