Pada hari Jumat lalu, sebuah pengumuman penting datang dari pihak Kurdi. Mereka menyatakan telah tercapai kesepakatan untuk integrasi dan gencatan senjata menyeluruh dengan negara Suriah. Ini bukan perkembangan kecil, melainkan titik balik yang signifikan dalam konflik yang telah berlarut-larut.
Kelompok yang dimaksud adalah Pasukan Demokratik Suriah (SDF), yang didominasi oleh milisi Kurdi. Mereka kini sepakat untuk bergabung baik dengan struktur pemerintahan maupun militer Suriah yang dipimpin Presiden Bashar al-Assad. Sebuah langkah yang, bagi banyak pengamat, menandai akhir dari perlawanan bersenjata mereka.
Lalu, seperti apa wujud kesepakatan di lapangan? Pasukan SDF yang selama ini berjaga di garis depan utara akan menarik diri. Ruang yang ditinggalkan akan diisi oleh pasukan pemerintah Suriah, khususnya dari Kementerian Dalam Negeri. Mereka akan mengambil alih posisi-posisi kunci di pusat kota Hasakah dan Qamishli, wilayah yang sebelumnya menjadi benteng SDF.
Tak cuma itu. Seluruh pasukan keamanan lokal yang selama ini berada di bawah komando SDF juga akan dilebur ke dalam struktur resmi Pemerintah Suriah. Artinya, kontrol keamanan secara de facto akan sepenuhnya beralih ke tangan Damaskus.
Latar belakang kesepakatan ini tentu saja adalah tekanan militer yang kian besar. Sejak awal Januari, pasukan pemerintah Suriah di bawah komando Presiden Ahmed al-Sharaa bukan Assad terus merangsek maju. Mereka berhasil merebut kawasan timur dan utara yang dulu dikuasai SDF. Serangan itu membuat posisi pasukan Kurdi terjepit dan kekuatan mereka menyusut drastis.
Artikel Terkait
Pidato Haru Mahasiswi Indonesia di Al-Azhar Berbuah Beasiswa Langsung dari Syaikh
Kemenkes Angkat Bicara Soal Tren Gas Tertawa: Bisa Berujung Maut
Kemenkes Buka Suara soal Nitrous Oxide Usai Kasus Lula Lahfah
Tiga Golongan yang Dijanjikan Perlindungan Saat Kekacauan Hari Kiamat