Bagi Rachmat, pemenuhan gizi ini adalah fondasi. Tanpa fondasi yang kuat, pembangunan sumber daya manusia mustahil berjalan efektif. Setelah kebutuhan dasar terpenuhi, barulah kebijakan lain seperti penciptaan lapangan kerja bisa memberikan dampak yang benar-benar berkelanjutan.
Program MBG sendiri bukan lagi wacana. Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto sudah menyinggungnya di forum internasional, World Economic Forum di Davos. Dengan sedikit berkelakar, Prabowo menyebut program ini akan melampaui capaian raksasa makanan cepat saji, McDonald's.
"Hingga tadi malam, kami telah memproduksi 59,8 juta porsi makanan per hari untuk anak-anak, ibu, dan lansia yang hidup sendiri," ujar Prabowo di Davos.
Targetnya ambisius: mencapai 82,9 juta porsi per hari. Angka itu berarti menyalip McDonald's yang saat ini melayani sekitar 68 juta porsi. Menariknya, Prabowo menyebut Indonesia hanya butuh sekitar setahun untuk mencapainya.
Sebagai perbandingan, McDonald's memulai dapur pertamanya pada 1940 dan butuh waktu puluhan tahun sekitar 55 tahun untuk sampai di angka tersebut.
Program yang resmi dimulai awal Januari 2025 ini berkembang pesat. Dari hanya 190 dapur yang memproduksi 570 ribu porsi, kini telah ada lebih dari 21 ribu unit dapur yang beroperan di seluruh penjuru Indonesia. Perkembangannya memang luar biasa, dan sepertinya akan terus menjadi perbincangan hangat, baik di dalam maupun luar negeri.
Artikel Terkait
Kejari Sleman Tutup Perkara Hogi Minaya, Penuntutan Dihentikan Demi Hukum
Tabung Pink Misterius di TKP Meninggalnya Lula Lahfah Berisi Gas Nitrous Oxide
Misteri Kematian Lula Lahfah: Kasus Ditutup Tanpa Autopsi
Kejagung Geledah Rumah Siti Nurbaya, Selidiki Dugaan Pelanggaran Tata Kelola Sawit