Namun begitu, jalan menuju perdamaian jelas masih panjang dan berliku. Ingat saja, pada November 2025, skenario serupa sudah terjadi: Rusia mengembalikan 1.000 jenazah dan mendapat 30 balasan. Tapi sejak Oktober tahun itu, pertukaran tawanan perang hidup-hidup mandek total. Saling tuding tentang siapa yang bertanggung jawab atas kebuntuan itu pun terus bergulir.
Menjelang empat tahun invasi yang dimulai Februari 2022, diplomasi memang masih berdenyut. Baru pekan lalu, misalnya, perwakilan Rusia, Ukraina, dan Amerika Serikat duduk bersama dalam pertemuan trilateral di Uni Emirat Arab. Kabarnya, atmosfernya konstruktif. Hanya saja, untuk isu-isu besar seperti status wilayah, belum ada titik terang.
Di lapangan, situasinya justru makin panas. Di Kharkiv, sebuah drone Rusia dikabarkan menghantam kereta penumpang. Setidaknya lima orang tewas dalam insiden itu. Belum lagi serangan terhadap infrastruktur penting Ukraina yang semakin intens beberapa bulan terakhir. Dampaknya langsung terasa: listrik padam, pasokan pemanas terganggu, di tengah musim dingin yang menggigit. Perang mungkin punya meja perundingannya sendiri, tapi di front, penderitaan warga sipil tak pernah berhenti.
Artikel Terkait
Niscemi Terbelah: Longsor Raksasa Sisisia Ubah Permukiman Jadi Zona Merah
Teman Seangkatan Jokowi di UGM Buka Suara: Ijazahnya Sudah Jelas Asli
Sheet Pile Retak, Warga Jembatan Gantung Terendam dan Frustrasi Menunggu Perbaikan
Dedi Mulyadi Tersentak, Tukang Es Viral Bohong Soal Nasibnya