Ketika Anak Tak Merasa Diterima: Luka Batin yang Tumbuh dalam Diam

- Jumat, 30 Januari 2026 | 06:06 WIB
Ketika Anak Tak Merasa Diterima: Luka Batin yang Tumbuh dalam Diam

Pernah dengar bahwa tumbuh kembang anak itu dipengaruhi oleh lingkungan sosial dan pola asuh orang tua? Biasanya, pembicaraan soal ini selalu menekankan betapa banyak waktu anak dihabiskan di luar rumah. Bermain, bergaul, bersosialisasi. Baru setelah itu, peran keluarga di rumah menyusul.

Lalu, bagaimana kalau proses tumbuh kembang itu tak berjalan mulus? Di sinilah lingkungan tempat anak tinggal sering jadi penentu. Kita lihat saja berita-berita belakangan, banyak sekali kasus anak terjerumus pergaulan bebas. Dalam tekanan tertentu, mereka bisa terdorong melakukan hal-hal berisiko. Mabuk, judi, tawuran, bahkan kehamilan di luar nikah. Itu semua bisa jadi bentuk pelarian, atau sekadar upaya mencari penerimaan.

Tapi, fokus kita sebenarnya bukan cuma pada perilaku itu sendiri. Yang lebih dalam, dan sering luput dari perhatian, adalah luka batin serta ingatan emosional yang terbentuk sejak kecil hingga remaja. Ada satu pertanyaan kunci yang kerap terlupakan:

“Apakah anak-anak ini merasa diterima di lingkungannya?”

Bayangkan seorang anak, atau remaja, yang terus-menerus merasakan penolakan. Kehadirannya diabaikan, omongannya tak didengar, pendapatnya dianggap tak berguna. Lambat laun, mereka akan beradaptasi dengan cara yang nggak sehat. Mereka berusaha mati-matian menyenangkan teman-temannya, ikut nimbrung dalam obrolan tanpa benar-benar terlibat, sementara perasaan dan pendapat pribadi mereka tekan sendiri.

Dari pengalaman pahit itu, anak belajar satu pelajaran berbahaya: diam itu lebih aman daripada jujur.

Kalau kondisi ini berlangsung lama, bisa terbentuk pola kepribadian yang menghindar. Mereka jadi terbiasa menarik diri, merasa diri nggak layak diterima, dan selalu takut ditolak. Ironisnya, meski lingkungan itu sama sekali nggak memberi rasa aman, mereka justru betah bertahan. Kenapa? Ya, karena itulah satu-satunya pola hubungan yang mereka kenal. Rasa “diterima” yang semu itu terasa familiar, sehingga tanpa disadari mereka tetap bertahan di dalamnya.

Pola seperti ini, saat dibawa sampai dewasa, jadi hambatan yang serius. Mereka sulit mengungkapkan pendapat, perasaan, atau kebutuhan emosionalnya. Malah, ketika ada orang yang bersikap baik, alarm kewaspadaan dalam kepala mereka justru berbunyi. “Ada apa sih? Kok baik banget? Jangan-jangan ada maunya?” Otak yang sudah terlatih dengan penolakan dan kepalsuan akan langsung menyuruh mereka untuk menjauh.

Jadi, pada akhirnya, luka batin ini bukan soal kelemahan seseorang. Ini lebih tentang sejarah panjang: mereka tak pernah benar-benar merasakan penerimaan.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar