Pernah dengar bahwa tumbuh kembang anak itu dipengaruhi oleh lingkungan sosial dan pola asuh orang tua? Biasanya, pembicaraan soal ini selalu menekankan betapa banyak waktu anak dihabiskan di luar rumah. Bermain, bergaul, bersosialisasi. Baru setelah itu, peran keluarga di rumah menyusul.
Lalu, bagaimana kalau proses tumbuh kembang itu tak berjalan mulus? Di sinilah lingkungan tempat anak tinggal sering jadi penentu. Kita lihat saja berita-berita belakangan, banyak sekali kasus anak terjerumus pergaulan bebas. Dalam tekanan tertentu, mereka bisa terdorong melakukan hal-hal berisiko. Mabuk, judi, tawuran, bahkan kehamilan di luar nikah. Itu semua bisa jadi bentuk pelarian, atau sekadar upaya mencari penerimaan.
Tapi, fokus kita sebenarnya bukan cuma pada perilaku itu sendiri. Yang lebih dalam, dan sering luput dari perhatian, adalah luka batin serta ingatan emosional yang terbentuk sejak kecil hingga remaja. Ada satu pertanyaan kunci yang kerap terlupakan:
Bayangkan seorang anak, atau remaja, yang terus-menerus merasakan penolakan. Kehadirannya diabaikan, omongannya tak didengar, pendapatnya dianggap tak berguna. Lambat laun, mereka akan beradaptasi dengan cara yang nggak sehat. Mereka berusaha mati-matian menyenangkan teman-temannya, ikut nimbrung dalam obrolan tanpa benar-benar terlibat, sementara perasaan dan pendapat pribadi mereka tekan sendiri.
Artikel Terkait
Nasib Guru Honorer Terkatung, 32.000 Pegawai SPPG Malah Dapat Jalan Tol PPPK
Pengkhianat dan Pencuri: Kisah Tak Terduga di Balik Runtuhnya Dinasti dalam Dancing with the Tide
Di Balik Layar Istanbul: Turki dan Hamas Membuka Jalur Diplomasi Gaza
Absensi dan Kesehatan Jadi Penyebab Calon Petugas Haji Gugur Sebelum Berangkat