Pernah dengar bahwa tumbuh kembang anak itu dipengaruhi oleh lingkungan sosial dan pola asuh orang tua? Biasanya, pembicaraan soal ini selalu menekankan betapa banyak waktu anak dihabiskan di luar rumah. Bermain, bergaul, bersosialisasi. Baru setelah itu, peran keluarga di rumah menyusul.
Lalu, bagaimana kalau proses tumbuh kembang itu tak berjalan mulus? Di sinilah lingkungan tempat anak tinggal sering jadi penentu. Kita lihat saja berita-berita belakangan, banyak sekali kasus anak terjerumus pergaulan bebas. Dalam tekanan tertentu, mereka bisa terdorong melakukan hal-hal berisiko. Mabuk, judi, tawuran, bahkan kehamilan di luar nikah. Itu semua bisa jadi bentuk pelarian, atau sekadar upaya mencari penerimaan.
Tapi, fokus kita sebenarnya bukan cuma pada perilaku itu sendiri. Yang lebih dalam, dan sering luput dari perhatian, adalah luka batin serta ingatan emosional yang terbentuk sejak kecil hingga remaja. Ada satu pertanyaan kunci yang kerap terlupakan:
Bayangkan seorang anak, atau remaja, yang terus-menerus merasakan penolakan. Kehadirannya diabaikan, omongannya tak didengar, pendapatnya dianggap tak berguna. Lambat laun, mereka akan beradaptasi dengan cara yang nggak sehat. Mereka berusaha mati-matian menyenangkan teman-temannya, ikut nimbrung dalam obrolan tanpa benar-benar terlibat, sementara perasaan dan pendapat pribadi mereka tekan sendiri.
Artikel Terkait
Fiorentina Hajar Cremonese 4-1, Gudmundsson Jadi Bintang
Mabes TNI Mutasi 35 Perwira, Brigjen Tagor Rio Pasaribu Jadi Aster Kaskogabwilhan II
Jadwal Imsak dan Salat di Surabaya 17 Maret 2026 Pukul 04.09 WIB
PSM Makassar Terancam di Papan Tengah Klasemen Liga 1 2025/2026