Menyapu Saat Imlek: Mitos Pengusir Rezeki atau Sekadar Simbol Budaya?

- Kamis, 29 Januari 2026 | 19:30 WIB
Menyapu Saat Imlek: Mitos Pengusir Rezeki atau Sekadar Simbol Budaya?

Menyapu saat Imlek bawa sial? Pertanyaan itu selalu muncul tiap tahun, termasuk jelang Imlek 2026 nanti. Masyarakat Tionghoa akan menyambut Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili pada 17 Februari mendatang. Nah, seiring momen itu mendekat, berbagai mitos dan pantangan pun ramai lagi dibicarakan. Salah satunya ya larangan untuk menyapu rumah di hari raya.

Banyak orang masih percaya, aktivitas itu bisa mengusir rezeki dan undang kesialan di awal tahun. Tapi, apa iya anggapan ini punya dasar kuat dalam tradisi? Atau cuma sekadar mitos yang telanjur melekat?

Dari Mana Asal Larangan Menyapu Saat Imlek?

Sebelum bahas larangannya, kita lihat dulu makna Imlek. Kata "Imlek" sendiri berasal dari bahasa Hokkian: "im" artinya bulan, dan "lek" berarti penanggalan. Jadi, perayaan ini dasarnya adalah tradisi budaya yang mengikuti kalender lunar, bukan semata ritual agama.

Ketua Umum Niciren Syosyu Indonesia (NSI), Suhadi Sendjaja, menegaskan hal ini. Menurutnya, Imlek itu tradisi kebudayaan yang dirayakan lintas agama. Semua orang keturunan Tionghoa atau yang menjalankan tradisi Tionghoa bisa merayakannya, terlepas dari keyakinan apa pun.

Nah, dalam praktiknya, Imlek identik dengan lampion merah, pakaian warna cerah, dan tarian barongsai yang riuh. Suasana sukacita itu diperkuat dengan alunan musik tradisional. Intinya, ini momen untuk bergembira bersama keluarga.

Di tengah kemeriahan itu, muncul berbagai pantangan. Salah satunya, jangan menyapu di hari pertama Imlek. Konon, tindakan itu bisa "menyapu" jauh keberuntungan yang seharusnya masuk. Tapi menurut Suhadi, pemahaman ini sebaiknya dilihat sebagai simbol, bukan larangan kaku.

Ia bilang, pantangan itu lebih bertujuan mendorong kita bersih-bersih sebelum hari raya tiba. Jadi, saat Imlek datang, rumah sudah bersih dan kita bisa fokus bersilaturahmi tanpa repot membereskan debu.

Lalu, Ini Mitos atau Fakta?

Suhadi bersikap cukup jelas. Keyakinan bahwa menyapu saat Imlek 2026 bakal mendatangkan malapetaka adalah pemahaman yang berlebihan. Bahkan, ia menyebutnya tidak proporsional.

"Kalau lantai kotor saat Imlek, ya silakan disapu. Tidak masalah," katanya, seperti dikutip sebuah media lokal beberapa waktu lalu. Menurutnya, anggapan yang menjurus ke takhayul justru menjauhkan kita dari esensi perayaan sebenarnya.

Larangan-larangan fisik semacam itu, tambahnya, tidak perlu dijadikan patokan utama. Selain kurang masuk akal, keyakinan berlebihan juga tidak memberi manfaat nyata bagi kehidupan sosial atau spiritual seseorang.

Lantas, apa yang pantang dilakukan saat Imlek? Suhadi menekankan satu hal: perbuatan jahat. Itulah pantangan sesungguhnya. Kejahatan, dalam bentuk apa pun, adalah hal yang mutlak harus dihindari, bukan sekadar urusan menyapu atau tidak.

Ia menegaskan, Imlek seharusnya jadi momentum untuk mengawali tahun dengan niat dan tindakan baik. Berbuat baik tentu tidak harus menunggu Imlek, tapi momen ini bisa jadi pengingat kolektif yang kuat bagi komunitas.

Makna yang Lebih Dalam

Lebih jauh, Suhadi menjelaskan bahwa inti perayaan Imlek 2026 bukan terletak pada pantangan fisik. Melainkan pada upaya membersihkan hati dan pikiran. Imlek adalah awal tahun untuk menanamkan nilai-nilai kebaikan, baik untuk diri sendiri maupun orang lain.

"Intinya, ketika kita menyambut Imlek ini, kita mengawali tahun dengan yang baik," ujarnya.

Nilai itu tercermin dalam tradisi kunjungan ke sanak saudara, saling mengucapkan doa, dan berbagi rezeki lewat angpao. Semua ritual itu punya tujuan mulia: mempererat ikatan dan membangun keharmonisan.

Jadi, kesimpulannya, larangan menyapu saat Imlek 2026 lebih tepat dipahami sebagai simbol budaya. Tujuannya mendorong persiapan yang baik sebelum hari raya, bukan menciptakan ketakutan akan kesialan. Esensi sebenarnya justru ada pada kebersihan batin dan niat kita.

Dengan memahami makna ini, perayaan Imlek bisa dijalani dengan lebih bijak. Penuh kegembiraan, dan tentu saja, sarat dengan nilai-nilai kebaikan yang universal.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar