Di tengah ketegangan yang memanas di kawasan, telepon pun menelepon. Putra Mahkota Saudi, Mohammed bin Salman, berbincang langsung dengan Presiden Iran yang baru, Masoud Pezeshkian. Percakapan itu terjadi justru saat ancaman militer AS terhadap Teheran menggantung di udara.
Menurut laporan Saudi Gazette yang mengutip kantor berita resmi kerajaan, SPA, panggilan itu dilakukan Kamis lalu. Intinya jelas: Riyadh ingin menegaskan posisinya. MBS menyatakan komitmen Arab Saudi untuk menghormati penuh kedaulatan Iran.
Lebih dari itu, sang Putra Mahkota yang juga Perdana Menteri secara tegas menolak penggunaan wilayah udara dan darat kerajaan untuk aksi militer apapun yang menargetkan Iran. “Tanpa memandang sumber atau arah serangan tersebut,” begitu bunyi pernyataannya, menutup semua celah kemungkinan.
“Arab Saudi mendukung penyelesaian segala perselisihan lewat jalur dialog,” tekan MBS. Tujuannya, katanya, tak lain untuk memperkuat pondasi keamanan dan stabilitas regional.
Di sisi lain, Presiden Pezeshkian memberi gambaran tentang situasi terkini di Iran. Dia menyampaikan update soal upaya pemerintahannya menangani berbagai tantangan, termasuk perkembangan terbaru dari pembicaraan nuklir yang rumit itu.
Presiden Iran itu juga menyampaikan apresiasi. Dia memuji sikap tegas Saudi yang menghormati kedaulatan Iran, serta berbagai inisiatif Putra Mahkota yang dinilainya mendorong perdamaian.
Sebelum Saudi, Uni Emirat Arab sudah lebih dulu bersuara. Kementerian Luar Negeri UAE juga menegaskan penolakannya jika wilayahnya digunakan untuk aksi militer bahkan untuk sekadar logistik melawan Iran.
Artikel Terkait
Imigrasi Luncurkan Global Citizen of Indonesia, Izin Tinggal Seumur Hidup untuk Diaspora
Lubang Jalan Jakarta: Tambal Sementara, Warga Tetap Waspada
Kulkas dan Kasur dari TNI untuk Pedagang Es yang Jadi Korban Kekerasan
Longsor di Tegallalang, Gianyar, Hantam Mobil dan Motor