Kisah Mengerikan di Lombok: Anak Cekik Ibu, Bakar Jasadnya Demi Uang

- Kamis, 29 Januari 2026 | 06:40 WIB
Kisah Mengerikan di Lombok: Anak Cekik Ibu, Bakar Jasadnya Demi Uang

✍🏻Moeflich H. Hart (Dosen UIN)

Na'udzubillahi min dzalik… Sungguh, dari semua kisah durhaka anak kepada orang tua yang pernah saya baca, peristiwa di Lombok tahun 2026 ini mungkin yang paling mengerikan. Sebuah kebiadaban yang sulit dicerna akal sehat.

Membantah ibu saja sudah dosa. Menyakiti hatinya, itu durhaka. Tapi membunuhnya? Lalu membakar jasadnya? Saya bertanya-tanya, taubat seperti apa yang bisa menebus dosa sebesar itu di hadapan Allah SWT. Rasanya mustahil.

Kronologi kejadiannya sendiri berawal dari hal yang sepele: uang. Bara Primario, 33 tahun, meminta Rp 39 juta kepada ibunya, Reni Yudi Astuti. Katanya untuk bayar utang. Sang ibu menolak.

Penolakan itu rupanya memicu amarah yang tak terbendung.

Menurut Kabid Humas Polda NTB, Kombes Mohammad Kholid, penolakan itu membuat pelaku sakit hati. "Sehingga terjadilah peristiwa pembunuhan tersebut," ujarnya, seperti dilansir sebuah media online Selasa lalu.

Peristiwa nahas itu terjadi dini hari Minggu, 25 Januari 2026, di rumah mereka di Monjok Timur, Mataram. Saat itu, hanya mereka berdua di rumah. Saat ibunya tidur, Bara mencekik leher sang ibu dengan seutas tali plastik.

Keesokan paginya, dengan mobil Innova Reborn putih miliknya, ia membawa jasad ibunya. Tujuannya: Sekotong, Lombok Barat. Di tengah perjalanan, ia berhenti. Membeli bensin pertalite.

"Dia melihat situasi sepi di sana, makanya dia berhenti dan menurunkan jasad di sana," jelas Kholid.

Kasus ini akhirnya terbongkar berkat kewaspadaan warga. Pada Minggu sore itu, di lahan kosong pinggir jalan Sekotong Barat, ada bau menyengat dan kepulan asap. Mereka mendekat, dan yang mereka temukan adalah pemandangan yang mengharu biru: jasad seorang perempuan hangus terbakar.

Laporan warga itulah yang membawa polisi menyelidiki, dan akhirnya menangkap Bara Primario. Seorang anak yang tega menghabisi nyawa orang yang melahirkannya, lalu berusaha menghapus semua jejak dengan api.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler