Kajian Politik Merah Putih: Bubarkan dan Tata Ulang Polri, Reformasi Setengah Hati Hanya Lahirkan Kekacauan
JAKARTA Wacana "perang sampai titik darah penghabisan" untuk membela institusi Polri dinilai tidak lebih dari narasi menyesatkan. Bahkan, terkesan kekanak-kanakan. Demikian penilaian tegas Sutoyo Abadi, Koordinator Kajian Politik Merah Putih. Menurutnya, dalam percaturan negara-negara di dunia, membubarkan atau melakukan pemecatan massal di tubuh kepolisian bukanlah hal yang aneh. Itu justru langkah tegas untuk mengobati korupsi yang sudah mengakar.
"Tidak usah ada narasi banjir darah seolah negara akan runtuh. Itu lelucon anak kecil," ujar Sutoyo dalam keterangannya, Kamis (29/1/2026).
"Banyak negara membuktikan, ketika polisi rusak secara sistemik, pembubaran dan penataan ulang justru menjadi solusi."
Ia lalu menunjuk contoh nyata. Pada 2005, Presiden Georgia Mikheil Saakashvili mengambil langkah radikal. Akibat korupsi akut, ia memecat puluhan ribu personel kepolisian sekitar 80 sampai 90 persen dari total anggota. Jumlahnya mencapai 25-30 ribu orang. Setelah itu, Saakashvili merekrut wajah-wajah baru, memberikan pelatihan intensif, dan yang cukup mencengangkan, meningkatkan gaji mereka hingga dua puluh kali lipat. Sistem dan perlengkapan pun diperbarui total.
Hasilnya? Sungguh berbeda. "Dulu warga Georgia malas berurusan dengan polisi karena identik dengan pemerasan dan penyiksaan. Setelah reformasi total, masyarakat justru datang sendiri ke polisi, kriminalitas turun drastis, dan ada zero tolerance terhadap penyiksaan," tegas Sutoyo.
Georgia bukan satu-satunya. Banyak pemimpin lain yang berani bertindak. Di Afrika Selatan, Presiden Jacob Zuma memecat Kepala Kepolisian Jenderal Bheki Cele karena tersangkut kasus korupsi, tak lupa juga memberhentikan dua menteri. Ollanta Humala di Peru lebih keras lagi: dua pertiga petinggi kepolisian dipecat, termasuk Kepala Kepolisian dan Kepala Satuan Narkoba. Tujuannya satu: memutus mata rantai korupsi.
Belum lagi Presiden Guatemala Alvaro Colom yang membersihkan rumah karena skandal suap narkoba, atau Vladimir Putin di Rusia yang tak segan memberhentikan pejabat tinggi kepolisian Moskow yang ketahuan menerima suap jutaan dolar.
"Ini bukti bahwa kepolisian bukan lembaga sakral yang tak bisa disentuh. Kalau rusak, ya dibongkar," ucapnya lugas.
Polri Dinilai Menyimpang dari Tupoksi
Lalu, bagaimana dengan Indonesia? Sutoyo melihat akar masalahnya ada pada Perpres Nomor 54 Tahun 2022. Aturan itu menempatkan Polri langsung di bawah kendali Presiden. Posisi itu, menurutnya, seperti memberi senjata berlebihan. Polri mendapat kewenangan luas, dengan imbalan loyalitas buta kepada kekuasaan.
"Di situlah petaka bermula. Polri berubah menjadi super body, menabrak siapa pun yang berseberangan dengan kekuasaan," katanya.
Padahal, mandatnya dalam UU Nomor 2 Tahun 2002 jelas: menegakkan hukum, menjaga keamanan dan ketertiban, serta melayani dan melindungi masyarakat. Itu saja. Namun kenyataannya kini jauh berbeda. Banyak oknum polisi justru berperan sebagai pengaman proyek oligarki. Mereka menjadi bodyguard pengusaha, penjaga perampasan tanah, bahkan berhadapan langsung dengan rakyat kecil yang cuma mempertahankan haknya.
"Ketika polisi bisa disuap lebih besar dari gaji negara, maka loyalitasnya berpindah. Bukan lagi ke rakyat, tapi ke pemilik modal," ujarnya.
Akumulasi penyimpangan ini, mau tidak mau, menciptakan stigma buruk yang melekat erat. Kepercayaan publik runtuh karena masyarakat merasakan sendiri betapa fungsi kepolisian telah melenceng.
Nah, untuk mengubah stigma itu menjadi positif, langkah tambal sulam jelas tak memadai. "Harus ada penataan ulang institusi secara menyeluruh," tegas Sutoyo.
Ia menekankan, wacana pembubaran Polri ini bukan semata soal ketegangan antara Kapolri dan Presiden. Masalahnya lebih mendasar: wajah Polri saat ini dinilai sudah terlalu jauh menyimpang dari mandat konstitusionalnya.
Kesimpulannya, bagi Sutoyo, hanya satu. "Bubarkan dan tata ulang Polri. Kalau tidak, kerusakan akan semakin dalam dan benturan dengan rakyat akan terus terjadi."
(Ys)
Artikel Terkait
Mobil Boks Terguling di Jalur Banjar-Pangandaran, Sopir Terjebak Dua Jam
Kericuhan Usai Persib Kalahkan Bhayangkara, Suporter Lempar Flare ke Arah Steward
Shakhtar Donetsk Jamu Crystal Palace di Semifinal Conference League di Polandia Akibat Perang
Braga dan Freiburg Bersaing Ketat di Semifinal Liga Europa, Leg Kedua Jadi Penentu