Pengamat Timur Tengah Buka Suara Soal Dana Rp17 Triliun: Bukan untuk Gaza, Tapi Biaya Keanggotaan?
Isu iuran Indonesia sebesar 1 miliar dolar AS atau sekitar Rp17 triliun untuk Board of Peace Trump terus memantik polemik. Dina Sulaiman, seorang pengamat Timur Tengah, mencoba meluruskan duduk persoalannya. Menurutnya, narasi bahwa dana sebesar itu akan mengalir untuk rekonstruksi Gaza sangatlah problematik. Bahkan, berpotensi menyesatkan.
“Publik harus melihat kronologinya dulu secara utuh,” tegas Dina dalam penjelasannya, Kamis (29/1/2026).
Ceritanya berawal dari proposal 20 poin gencatan senjata Donald Trump untuk Palestina dan Israel. Namun, Dina menyoroti sesuatu yang mencolok. “Dokumen itu sangat tidak adil. Tidak ada satu pun poin yang menyebut sanksi untuk Israel. Justru yang dilucuti adalah pejuang Palestina, bukan tentara Zionis yang telah membunuh ratusan ribu warga Gaza,” ujarnya.
Di sisi lain, PBB punya jalan sendiri. Pada November 2025, Dewan Keamanan mengadopsi Resolusi 2803 yang menyetujui pembentukan Dewan Perdamaian Gaza. Tujuannya jelas: melaksanakan 20 poin itu di bawah mandat internasional.
Tapi, Trump rupanya mengambil langkah berbeda. Alih-alih mengikuti mandat PBB, dia malah membentuk Board of Peace versinya sendiri. Piagamnya disusun sepihak oleh Amerika Serikat. Dan inilah yang bikin heboh.
“Yang mengejutkan,” kata Dina, “dalam Piagam Board of Peace versi Trump itu tidak ada satu kata pun tentang Palestina atau Gaza.”
Lalu, untuk apa iuran Rp17 triliun dari Indonesia? Dina mengungkap aturan keanggotaan yang ia nilai janggal. Negara yang tak membayar hanya akan jadi anggota selama tiga tahun. Sebaliknya, yang membayar lunas di tahun pertama seperti Indonesia rencananya langsung dapat status anggota permanen.
“Jadi sudah jelas. Rp17 triliun itu adalah biaya keanggotaan, bukan dana kemanusiaan,” tegasnya.
Artikel Terkait
Generasi Muda AS Serukan: Kalian Bukan Umat Pilihan, Kalian Iblis
Dua Ruas Jalan di Jakarta Tergenang, Arus Lalu Lintas Terganggu
Kisah Mengerikan di Lombok: Anak Cekik Ibu, Bakar Jasadnya Demi Uang
Trump Ultimatum Iran: Ancaman Serangan Lebih Dahsyat Gantung di Tengah Ajakan Berunding