Hamas Siap Serahkan Gaza ke Komite Teknokrat, Rafah Jadi Syarat Kunci

- Kamis, 29 Januari 2026 | 02:06 WIB
Hamas Siap Serahkan Gaza ke Komite Teknokrat, Rafah Jadi Syarat Kunci

Rabu lalu, juru bicara Hamas Hazem Qassem membuat pengumuman penting. Kelompoknya siap menyerahkan kendali pemerintahan di Gaza. Pihak yang akan menerimanya adalah Komite Nasional untuk Administrasi Gaza atau NCAG. Langkah ini merupakan bagian dari kesepakatan gencatan senjata yang sudah berjalan sejak Oktober tahun lalu.

Menurut Qassem, segala persiapan teknis telah rampung. "Protokol telah disiapkan, berkas-berkas telah lengkap," katanya kepada AFP, Kamis (29/1). "Komite-komite telah dibentuk untuk mengawasi penyerahan, memastikan transfer pemerintahan yang lengkap di Jalur Gaza di semua sektor kepada komite teknokrat."

NCAG sendiri adalah sebuah tim berisi lima belas teknokrat Palestina. Keberadaannya dirancang sebagai bagian dari perjanjian gencatan senjata yang didorong oleh Amerika Serikat. Tugas mereka nanti adalah mengelola urusan sehari-hari Gaza pasca-perang. Mereka akan bekerja di bawah pengawasan sebuah Dewan Perdamaian yang dipimpin Presiden AS Donald Trump.

Di sisi lain, ada satu hal yang terus ditegaskan Hamas: perbatasan Rafah harus segera dibuka. Qassem bersikeras, penyeberangan itu harus beroperasi di kedua arah. Warga harus bisa keluar dan masuk Gaza dengan bebas. "Tanpa hambatan dari Israel," tegasnya.

Rafah bukan sembarang perbatasan. Ini adalah satu-satunya gerbang Gaza ke dunia luar yang tidak mengarah langsung ke Israel. Titik inilah yang menjadi pintu masuk utama bagi manusia dan bantuan. Sayangnya, sejak pasukan Israel menguasainya pada Mei 2024, akses itu praktis tertutup. Pembukaan terbatas sempat terjadi di awal 2025, tapi itu saja tidak cukup.

Kabar baiknya, pekan lalu Ali Shaath mantan wakil menteri Otoritas Palestina yang memimpin NCAG mengumumkan Rafah akan dibuka kembali dalam waktu dekat. Pernyataan ini tentu disambut baik oleh Hamas.

Namun begitu, Qassem punya catatan. "Yang lebih penting adalah kita memantau penanganan komite ini," ujarnya. Ia ingin memastikan lalu lintas warga berjalan sepenuhnya sesuai perjanjian, bukan berdasarkan syarat-syarat yang ditetapkan Israel.

Soal komitmen terhadap gencatan senjata, Qassem menegaskan Hamas telah memenuhi kewajiban pada fase pertama. "Mereka siap untuk memasuki semua jalur fase kedua," imbuhnya. Fase berikutnya ini memang berat: mencakup pelucutan senjata Hamas dan penarikan penuh Israel dari Gaza.

Nah, soal pelucutan senjata ini selalu jadi soal pelik. Bagi Hamas, itu adalah garis merah. Meski begitu, mereka pernah mengisyaratkan keterbukaan untuk menyerahkan senjatanya tapi hanya kepada otoritas pemerintahan Palestina yang sah.

Hingga kini, baik Israel maupun Hamas belum punya peta jalan yang jelas. Tidak ada tanggal pasti, juga belum ada strategi yang disepakati bersama untuk proses penarikan dan pelucutan senjata itu. Semuanya masih digantungkan pada negosiasi dan, tentu saja, kondisi di lapangan.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar