Isu Reshuffle Menghangat: Pratikno Diisukan Diganti, Apa Artinya?
Suasana di lingkar kekuasaan belakangan kembali tegang. Isu perombakan kabinet atau reshuffle bergulir kencang, dan satu nama yang paling sering disebut adalah Menteri Koordinator PMK, Pratikno. Istana memang masih tutup mulut, tapi bisik-bisik di koridor politik sudah tak terbendung. Banyak yang bertanya-tanya, apa sebenarnya yang sedang dijalankan Presiden Prabowo Subianto dalam menata ulang timnya?
Menurut pengamat intelijen dan geopolitik Amir Hamzah, kabar pergantian Pratikno ini bukan perkara sederhana. Ini bukan cuma soal kinerja menteri, tapi lebih ke arah kalkulasi politik yang jauh lebih dalam. "Pratikno adalah loyalis sejati Jokowi," ujarnya.
"Isu penggantiannya menunjukkan bahwa Prabowo mulai secara perlahan menghabisi pengaruh Jokowi di lingkar kekuasaan," tambah Amir saat berbincang dengan wartawan, Rabu lalu.
Memang, hubungan Pratikno dengan Jokowi sangatlah erat. Dia pernah menjadi Menkretneg selama dua periode penuh, dan sering disebut sebagai tangan kanan sang mantan presiden. Kedekatan itu rupanya tak lantas putus setelah Jokowi lengser. Pratikno masih beberapa kali terlihat mengunjungi Jokowi di Solo. Bagi para pengamat, kunjungan-kunjungan semacam ini bukan sekadar silaturahmi biasa.
"Dalam politik tingkat tinggi, simbol itu penting," kata Amir. "Kunjungan-kunjungan tersebut dibaca sebagai bentuk loyalitas berkelanjutan."
Namun begitu, Amir meyakini Prabowo tidak akan bertindak frontal. Dia paham betul betapa kuatnya pengaruh Jokowi, yang masih membentang di birokrasi, partai, dan kalangan elite. "Prabowo itu pemain lama," jelasnya. "Dia tidak akan menyerang Jokowi secara terbuka. Strateginya lebih sunyi: menggeser, mengurangi, dan mengganti simpul-simpul pengaruh secara bertahap."
Artikel Terkait
Di Balik Forum Perdamaian: Ketika Diplomasi Indonesia Justru Mengukuhkan Penjajahan
Tim SAR Temukan Dua Korban Longsor Cisarua di Tengah Hujan dan Ancaman Longsor Susulan
Jadi Petani Bukan Jawaban: Saat Metafora Mengalihkan dari Krisis Keadilan
Di Balik Kursi Dewan Perdamaian: Diplomasi Indonesia Terjebak dalam Rencana AS-Israel?