Di hadapan anggota Komisi V DPR, Menteri PU Dody Hanggodo memaparkan update terbaru soal penanganan pascabencana. Rapat kerja yang digelar di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (27/1) itu, membahas progres pemulihan di tiga provinsi yang porak-poranda: Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh.
Kerja Kementerian PU ternyata tak cuma soal perbaikan jalan atau jembatan yang putus. Mereka juga turun langsung membersihkan lumpur yang menggenangi fasilitas publik.
“Kami juga turut menangani pembersihan lumpur-lumpur di pasar, di madrasah, di sekolah, fasilitas-fasilitas kesehatan bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan, dan di beberapa tempat lainnya,” jelas Dody.
“Dari 171 lokasi yang sudah kita tangani, 120 sudah bisa kita fungsionalkan,” tambahnya.
Tak berhenti di situ, pembangunan hunian sementara atau huntara untuk para korban yang kehilangan tempat tinggal juga sudah dimulai. Menurut laporan menteri, sekitar 1.200 unit huntara sedang disiapkan dan disebar di ketiga provinsi tersebut.
“Dan hari ini kita juga membangun rumah-rumah hunian atau hunian sementara. Ada di 1.200 unit yang kita sebar untuk di Aceh, Sumut, dan Sumbar, sesuai dengan arahan dan bimbingan dari BNPB Bapak-Bapak sekalian titiknya,” tutur Dody.
Di sisi lain, ada proyek yang dikebut tenggat waktunya. Kementerian PU mendapat permintaan dari Menteri Kesehatan untuk menyiapkan puskesmas darurat di Aceh Timur dan Aceh Tenggara.
“Ini kami targetkan puskesmas sementaranya bisa selesai paling lambat sebelum bulan Ramadan 2026 atau sebelum tanggal 15 Februari 2026,” ujarnya.
“Untuk pekerjaan puskesmas yang permanen, kami harapkan di akhir 2026 bisa kami selesaikan yang dua ini,” sambung dia.
Progres Rehabilitasi: 23% Tuntas, Irigasi Jadi Prioritas
Secara keseluruhan, Dody melaporkan sekitar 23 persen pekerjaan rehabilitasi infrastruktur yang rusak akibat bencana sudah rampung. Prioritas utama saat ini diarahkan pada perbaikan infrastruktur irigasi pertanian.
“Dari total yang sudah kami rehabilitasi hingga hari ini, ada sekitar sudah hampir 23%, dan kami targetkan sesuai dengan diskusi dengan Kementerian Pertanian, irigasi-irigasi ke arah sawah-sawah yang yang sudah mulai tanam dengan dengan koordinasi dengan Kementerian Pertanian akan kami prioritaskan,” jelas Dody.
Namun begitu, tantangan lain masih menunggu. Ada puluhan bendung, baik nasional maupun daerah, yang ikut terdampak. Sayangnya, pemulihannya belum bisa maksimal.
“Progres kita memang masih sangat sedikit di bendung, karena kemarin kami fokusnya itu adalah di sungai,” akunya.
Alasannya cukup masuk akal. “Karena di beberapa tempat yang terdampak seperti Tapanuli Selatan dan Tamiang begitu masih hujan lagi, kemudian banjir lagi,” papar Dody.
“Jadi kami lebih fokus melakukan normalisasi Pak pada sungai-sungai tersebut. Dengan mengeruk, melakukan pengerukan, kemudian hasil pengerukan itu kita pakai sebagai tanggul sementara,” imbuhnya.
Normalisasi Sungai Baru Tembus Setengah, Target Oktober 2026
Nah, soal normalisasi sungai ini, progresnya kini mencapai 52 persen. Angka yang cukup signifikan, meski masih ada separuh jalan lagi. Target penyelesaiannya dipatok pada Oktober 2026.
“Tapi karena masih sangat panjang sungai-sungai yang terdampak, progres kami per hari ini baru baru mungkin mencapai 52%,” ujar Dody.
“Targetnya per Oktober 22–2026, kami sudah selesai menangani kurang lebih 77 sungai nasional yang terdampak dan 43 sungai daerah yang terdampak,” lanjutnya.
Melihat kondisi di lapangan, pemerintah juga sudah menyiapkan langkah jangka panjang. Mereka mengusulkan pembangunan sejumlah Sabo Dam dan Check Dam di ketiga provinsi itu. Infrastruktur pengendali sedimen ini ditargetkan selesai paling lambat Oktober 2028.
“Karena kami melihat bahwa proses perusakan hulu yang masih sangat besar,” jelas Dody mengenai alasan pembangunannya.
“Sehingga kami sudah mengidentifikasikan jika hujan masih sangat lebat di daerah hulu baik Aceh, Sumatera Utara maupun Sumatera Barat maka sedimen yang berupa pasir maupun kayu masih sangat mungkin turun ke daerah-daerah hilir,” paparnya.
“Maka kemudian kami mengusulkan pembangunan beberapa Sabo Dam dan Check Dam yang kami targetkan selesai selambatnya di Oktober 2028,” tegas dia.
Terakhir, soal pasokan air bersih. Sebanyak 176 Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) terdampak bencana. Kabar baiknya, hampir 70 persen di antaranya sudah berhasil dihidupkan kembali.
“Kami mengidentifikasi ada 176 SPAM yang terdampak, dan alhamdulillah sudah hampir 70% yang sudah bisa kita selesaikan,” tutur Dody.
“Dan kami targetkan semua bisa fungsional selambatnya tanggal 15 Februari 2026. Untuk permanen, kami menargetkan sampai dengan Agustus 2028,” pungkasnya menutup laporan.
Artikel Terkait
Truk Tangki Modifikasi Muat 5 Ton Solar Terguling, Puluhan Kecelakaan Beruntun di Bangkalan
Polisi Bongkar Judi Online Skala Besar di Batam, Dua Tersangka Kelola Lebih dari 200 Ribu Akun
Penundaan 11 Jam Sriwijaya Air SJ-581, Penumpang Mengeluhkan Minimnya Kompensasi dan Komunikasi
PSM Makassar Kalahkan Bhayangkara 2-1, Modal Penting Jauhi Zona Degradasi Liga 1