Pendidikan Terjebak Pasar: Saat Sekolah Hanya Cetak Pekerja, Bukan Manusia

- Selasa, 27 Januari 2026 | 04:00 WIB
Pendidikan Terjebak Pasar: Saat Sekolah Hanya Cetak Pekerja, Bukan Manusia

Pernah nggak sih, merasa kalau sekolah atau kampus sekarang kayak sekadar pabrik yang mencetak ijazah? Kalau dipikir-pikir, akar masalahnya mungkin bukan pada kurikulum yang berantakan. Bisa jadi, sistem ekonominya lah yang bermasalah dan mendikte segalanya.

Sejak Perang Dingin berakhir, mekanisme ekonomi kapitalisme nyaris jadi satu-satunya fondasi penggerak dunia. Ini bukan rahasia lagi. Yang bikin miris, dunia pendidikan ikut terseret. Rasanya, belajar itu sekarang cuma buat memenuhi tuntutan pasar. Gimana mau merdeka belajar kalau di luar sana, bayangan masa depan finansial yang suram terus menghantui?

Pendidikan dalam Cengkeraman Pasar

Pola ini sebenarnya sudah lama. Sejarawan mencatat, sejak zaman kolonial lewat Politik Etis di awal 1900-an, pendidikan sudah diarahkan untuk mencetak buruh murah. Nah, yang bikin kita geleng-geleng, di abad ke-21 ini polanya ternyata masih mirip. Miris, kan?

Lihat saja datanya. Lulusan sarjana sampai doktor yang menganggur jumlahnya fantastis, nyaris mencapai satu juta orang. Sementara itu, kampus-kampus negeri berstatus PTN-BH makin mahal saja biayanya. Jadinya paradoks: sekolah mahal banget, tapi gaji yang ditawarkan pasar kerja nggak sepadan.

Dampaknya jelas. Generasi muda jadi super pragmatis. Cuma segelintir anak Gen-Z yang mau jadi guru, karena gajinya memang termasuk paling rendah di kawasan Asia Tenggara. Akhirnya, semua serbuan ke jurusan-jurusan seperti teknik, komputer, atau ekonomi. Alasannya cuma satu: "yang penting cepat dapet kerja". Minat dan bakat? Itu urusan belakangan.

Manusia yang Terasing, Nilai yang Hilang

Begitu pendidikan cuma fokus melayani industri, nilai-nilai kemanusiaan pun terpinggirkan. Kampus dan sekolah berubah jadi arena gladiator untuk mencetak pekerja patuh, bukan manusia merdeka yang punya daya kritis. Memangnya bisa? Kalau ilmu pengetahuan kehilangan nilai kemanusiaannya, hanya malapetaka peradaban yang akan datang.

Lantas, bagaimana seharusnya? Pendidikan humanis itu perlu punya tiga ranah, kira-kira seperti yang pernah digagas Habermas.

Pertama, pembelajaran teknis. Ini soal menguasai sains dan teknologi untuk mengelola alam.

Kedua, pembelajaran praktis. Di sini, kita perlu memahami realitas sosial lewat ilmu humaniora.

Yang terakhir dan paling krusial: pembelajaran emansipatoris. Tujuannya menumbuhkan kesadaran untuk melawan penindasan dan menjaga martabat manusia. Tanpa ini, pendidikan cuma jadi alat penjinakan.

Kunci Utamanya: Perbaiki Ekonomi Dulu

Jelas, pendidikan nggak bisa jalan sendirian. Peran negara mutlak diperlukan untuk meratakan ketimpangan upah dan membuka lapangan kerja yang layak. Jujur saja, selama "urusan perut" belum beres, wacana pendidikan humanis cuma akan jadi slogan kosong yang indah didengar.

Intinya, pemerataan ekonomi adalah kuncinya. Bayangkan jika setiap profesi entah itu guru, seniman, atau peneliti dihargai secara layak. Maka, anak-anak akan bebas mengejar bakatnya tanpa rasa was-was. Dari situlah lahir generasi baru. Mereka bukan cuma pinter secara teknis, tapi juga punya empati dan kesadaran kritis untuk membangun dunia yang lebih adil.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar