Di jalan-jalan Kota Gaza yang hancur, sebuah kendaraan lapuk terlihat menyusuri reruntuhan. Itu adalah mobil Hussein Liwa, seorang warga Palestina berusia 42 tahun. Dengan kendaraan yang nyaris tak berbentuk itu, dia berkeliling mengangkut orang-orang dari wilayah terpencil yang sulit dijangkau.
Bapak lima anak ini bercerita, mobilnya sendiri dia selamatkan dari bawah puing. "Saya ambil dari reruntuhan," katanya. Apa pun yang masih bisa dipakai, dia usahakan agar bisa menjadi sumber penghasilan untuk menghidupi keluarganya.
Fungsinya memang terbatas. Tapi di tengah keterbatasan yang mencekam, kehadiran kendaraannya sangat berarti. Mulai dari memindahkan tenda pengungsian, mengantar warga yang sakit ke klinik, sampai mengangkut barang-barang kebutuhan sehari-hari.
Untuk ongkosnya, Hussein mematok tarif yang relatif. Sekitar 5 Shekel atau setara Rp 26 ribu untuk perjalanan dalam kota. Kalau harus keluar kota, dia minta 15 sampai 30 Shekel, atau kira-kira Rp 80 ribu hingga Rp 161 ribu rupiah.
Memang tidak mudah. Namun begitu, upayanya ini setidaknya memberi sedikit cahaya. Bagi Hussein, ini soal bertahan hidup. Bagi warga Gaza yang dia bantu, itu adalah secara peluang untuk tetap bergerak di tengah kepungan kehancuran.
Artikel Terkait
DPR Sahkan Hery Susanto Pimpin Ombudsman Periode 2026-2031
37,3 Juta Pekerja Indonesia Terjebak dalam Lembur Panjang demi Sekadar Bertahan
BNN Angkat Bicara Soal Tren Whip Pink yang Disalahgunakan untuk Mabuk
Kobaran Api Hanguskan Kapal di Pelabuhan Muara Baru, Asal Usul Masih Misterius