Felix Siauw Sindir Sikap Pemerintah: Jamin Keamanan Israel, Sementara Gaza Berdarah?

- Senin, 26 Januari 2026 | 09:50 WIB
Felix Siauw Sindir Sikap Pemerintah: Jamin Keamanan Israel, Sementara Gaza Berdarah?

Kritik pedas kembali dilontarkan Ustaz Felix Siauw, kali ini menyasar sikap pemerintah Indonesia dalam konflik Palestina. Lewat sebuah video di media sosial, pendakwah itu menyatakan Presiden Prabowo Subianto terjebak dalam apa yang disebutnya "penjajahan pemikiran". Intinya, Felix geram dengan penekanan berulang pada jaminan keamanan untuk Israel, sementara Gaza masih berdarah-darah.

Analogi yang digunakannya cukup keras untuk menggambarkan kegelisahannya. Bayangkan, kata Felix, sebuah keluarga dirampok, dibunuh, bahkan diperkosa di hadapan kita. Tapi alih-alih menolong korban, yang terjadi justru jaminan keamanan untuk si perampok. "Gila gak?" tanyanya retoris.

"Saya sudah tiga kali dengar beliau mengatakan kita harus menjamin keamanan Israel,"

ujar Felix, suaranya tegas penuh kegeraman.

Menurutnya, logika seperti itu sulit dicerna. Di tengah laporan-laporan kekejaman yang datang dari berbagai lembaga dunia, fokus pada keselamatan pelaku terasa janggal. Felix tak menuntut pemikiran yang cerdas. Cukup yang normal saja. "Tapi malah bilang berkali-kali kita harus menjamin keselamatan Israel. Bagi saya itu bukan hanya tidak normal, ini cara berpikir yang sangat sesat," tegasnya.

Persoalan lain yang disoroti adalah keputusan Indonesia bergabung dengan 'Board of Peace' gagasan Donald Trump. Felix menyebutkan angka yang fantastis: Rp1,6 triliun untuk keterlibatan itu. Baginya, keadilan dewan itu patut dipertanyakan. Bagaimana mungkin solusi untuk Palestina bisa lahir dari forum yang diisi tokoh seperti Tony Blair atau Benjamin Netanyahu?

"Ini jelas-jelas penjajahan gaya baru, kesewenang-wenangan," lanjutnya.

Di sisi lain, Felix merasa publik dan pemerintah seperti didorong untuk tidak bisa berpikir jernih. Semuanya, katanya, menjadi pemberi legitimasi bagi kezaliman yang nyata-nyata terjadi. Pertanyaannya sederhana: mengapa prioritas untuk Palestina dan pengadilan bagi penjahat perang tak pernah menjadi narasi utama?

"Kita dipaksa menjadi legitimasi bagi kezaliman yang sedang terjadi," pungkas Felix.

Hingga saat ini, belum ada tanggapan resmi dari Istana atau Kementerian Luar Negeri mengenai kritikan tersebut. Suara Felix Siauw masih menggantung, menunggu respons.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar