Pesta Anggaran: Saat Proyek Negara Jadi Santapan Keluarga dan Kroni

- Sabtu, 24 Januari 2026 | 11:50 WIB
Pesta Anggaran: Saat Proyek Negara Jadi Santapan Keluarga dan Kroni

Elite Berpesta Mengeruk Anggaran Negara

Oleh: Nano Hendi Hartono
Wartawan senior

Hidup makin susah, tekanan ekonomi terasa di mana-mana. Tapi di tengah situasi seperti ini, kita malah disuguhi sebuah ironi yang pedih. Para elite negeri ini ternyata sedang berpesta. Bukan sembarang pesta, melainkan pesta anggaran. Uang negara yang mestinya untuk mensejahterakan rakyat, justru berubah jadi santapan lezat bagi segelintir orang berkuasa, plus keluarga dan kroni-kroninya.

Anggaran negara tiap tahun membesar. Alasannya selalu itu: demi pembangunan, pemulihan ekonomi, kesejahteraan. Namun begitu, di lapangan ceritanya sering berbeda. Proyek pengadaan di berbagai lembaga, dari pusat sampai daerah, seringnya dimenangi oleh nama-nama yang itu-itu saja. Perusahaan milik keluarga pejabat, koneksi politik, atau relasi yang sudah masuk dalam lingkaran kekuasaan.

Ini bukan cuma soal korupsi uang tunai di bawah meja. Polanya sudah lebih sistemik, menjelma jadi sebuah sistem patronase yang rapi dan nyaris legal. Caranya? Aturan dibuat lentur, regulasi ditafsirkan seenaknya, sementara pengawasan sengaja dilemahkan. Demokrasi dari luar tampak berjalan pemilu ada, pidato berkumandang tapi isinya kosong melompong.

Intinya sederhana: rakyat yang memilih, elite yang menikmati. Rakyat menunggu janji terpenuhi, sementara mereka sibuk membagi-bagi proyek.

Hubungan antara kekuasaan dan bisnis kini seperti dua sisi koin yang sulit dipisahkan. Jabatan publik bukan lagi amanah, melainkan akses. Akses untuk menggeruk anggaran, menguasai proyek, dan mengakali kekayaan negara dengan bungkus indah "kepentingan nasional".

Ambil contoh kisah Ahmad, seorang pengusaha kecil di daerah. Dia pernah mencoba ikut tender pengadaan di sebuah lembaga negara. Dokumen disiapkan mati-matian, syarat teknis dipenuhi semua, harganya pun kompetitif. Tapi belum lama proses berjalan, dia sudah dapat "isyarat".


Halaman:

Komentar