Gus Baha Sindir Kebiasaan NU Memaksakan Dalil yang Tak Jelas Juntrungnya

- Sabtu, 24 Januari 2026 | 06:20 WIB
Gus Baha Sindir Kebiasaan NU Memaksakan Dalil yang Tak Jelas Juntrungnya

Ketika Dalil Dipaksakan

Gus Baha’ punya cara unik untuk menyindir. Suatu kali, dengan nada khasnya, beliau menyebut bahwa sebagian warga NU bahkan yang sudah duduk di jajaran Syuriah masih perlu banyak belajar. Ini bukan soal niat atau kecintaan pada tradisi. Bukan itu. Masalahnya lebih pada kebiasaan memaksakan dalil yang sebenarnya tidak jelas juntrungnya.

Ambil contoh tradisi tahlilan. Ritual 7 hari, 40 hari, atau 100 hari itu sudah mengakar dan hidup di tengah masyarakat. Tapi, ketika dibela, sering kali hanya mengandalkan kalimat sakti: “Ada hadisnya.”

Nah, yang jadi pertanyaan: hadis yang mana, sih?

Menurut sejumlah saksi, inilah yang kerap bikin NU kikuk saat berhadapan dengan alumni Ummul Qura, Madinah, atau para doktor hadis. Rasanya seperti Nabi dianggap orang NU. Seolah semua tradisi lokal Jawa turun satu paket dengan wahyu. Padahal, Gus Baha’ mengingatkan, secara riwayah, hadis-hadis yang biasa dipakai untuk membela tradisi itu memang bermasalah.

Beliau sendiri, yang tiap hari bergelut dengan kitab hadis, sering mengaku tidak paham dengan apa yang disebut orang sebagai “hadis ala NU”.

Lalu terjadilah adegan yang tragikomik. Saat seorang kiai NU bertemu dengan kubu lain, dia digojlok dengan pertanyaan sederhana: “Itu hadisnya sahih atau tidak?”

Yang bertanya sebenarnya tidak paham hadis. Yang ditanya juga begitu.

Akhirnya? Keduanya diam. Bukan karena takzim, tapi lebih karena sama-sama kosong. Di titik inilah Gus Baha’ mengingatkan: hadis sahih itu sebenarnya sangat luas. Dalil yang kuat berlimpah ruah. Tidak perlu memaksakan riwayat yang aneh-aneh hanya demi membela tradisi.

Sebab yang terjadi justru sebaliknya. Bukan tradisinya yang tampak kuat, tapi NU-nya yang malah terlihat ngawur.

Di hadapan profesor hadis dari Mekkah atau Ummul Qura, NU bisa terlihat seperti ormas yang emosional. Cinta tradisi, tapi miskin argumen. Padahal, sejatinya, NU tidak pernah benar-benar kekurangan legitimasi syar’i. Yang sering kali kurang adalah kejujuran ilmiah.

Faktanya, sebagian amalan kita berdiri bukan di atas hadis sahih. Ia berdiri di atas kaidah umum syariat, amal saleh kolektif, praktik ulama, maqashid, dan pertimbangan kemaslahatan. Dan itu sah. Itu terhormat. Itu ilmiah.

Yang tidak ilmiah adalah memalsukan kekuatan dalil hanya demi menyelamatkan harga diri sebuah tradisi.

Gus Baha’ seperti sedang berkata pelan: Jangan jadikan NU tampak alim dengan cara yang tidak alim. Lebih mulia berkata jujur, “Ini tidak ada hadis sahihnya, tapi ini baik, ini maslahat, ini warisan ulama.”

Daripada ngotot bilang, “Ada hadisnya,” padahal tidak tahu sanadnya, tidak kenal perawinya, dan tidak paham kualitasnya.

Ironisnya, yang membuat NU tampak lemah di hadapan kelompok lain bukanlah tradisi tahlilannya. Bukan. Tapi kebiasaan berbohong atas nama hadis.

Di situlah kritik Gus Baha’ menjadi tamparan lembut. NU tidak butuh dalil palsu. Yang dibutuhkan cuma kejujuran dan sedikit keberanian untuk berkata, “Kami mencintai tradisi, tapi kami tidak mau memalsukan Nabi demi membelanya.”

(Dwy Sadoellah)

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar