Ulang tahun Ansor bukan sekadar seremoni tukar kado atau rapat akbar. Bukan. Saat melihat ribuan seragam loreng Banser berbaris rapi dalam Harlah, saya melihat sebuah entitas yang "lebih NU daripada NU itu sendiri" terutama dalam hal kecepatan bertindak. Kalau Nahdlatul Ulama itu kapal besar, maka Ansor adalah mesin dieselnya. Tangguh. Berisik kalau perlu. Tapi pasti melaju.
Sejarah mencatat, organisasi ini lahir dari rahim kekhawatiran para kiai sepuh terhadap masa depan kaderisasi. Pada 24 April 1934 di Banyuwangi, lewat tangan dingin KH Abdul Wahab Hasbullah, cikal bakal Ansor disepakati. Namanya waktu itu Anshoru Nahdlatul Oelama (ANO). Suci namanya, mengambil semangat kaum Anshar Madinah: penolong, pelopor, dan pembela.
Membaca sejarah Ansor itu seperti membaca kisah yang tak pernah lelah. Dari ikut angkat senjata mempertahankan kemerdekaan, membumihanguskan pemberontakan PKI, hingga menjadi benteng terakhir Islam Ahlussunnah wal Jamaah yang ramah moderat, maksudnya di tengah gempuran ideologi ekstrem. Ansor bukan pemuda "manja" yang menunggu instruksi. Mereka pemuda "lapangan" yang menjemput bola.
Di sisi lain, Ansor beruntung punya tradisi estafet kepemimpinan yang cair. Bukan sekadar siapa yang paling senior, tapi siapa yang paling "nekat" dalam artian positif memimpin perubahan.
Coba lihat perjalanannya. Gus Ipul, misalnya. Di masanya, Saifullah Yusuf berhasil mengubah citra Ansor dari organisasi kultural menjadi organisasi yang lincah dan berani berinteraksi dengan dunia luar. Dia membawa Ansor lebih populer, lebih politis dalam artian positif, dan memperkuat posisi Banser sebagai "satpam" NKRI yang disegani. Gus Ipul ini fenomenal, lho. Dia meletakkan fondasi modernisasi dan penguatan ideologi kebangsaan saat menjabat Ketua Umum PP GP Ansor selama dua periode, 2000 hingga 2010.
Keberhasilan besarnya? Dia mampu menjembatani kepentingan organisasi dengan dinamika politik pasca-reformasi. Sekaligus memperkuat peran Banser sebagai garda terdepan penjaga ulama dan NKRI. Di bawah kepemimpinannya, Ansor bertransformasi jadi organisasi kepemudaan yang lebih dinamis, nyentrik, dan disegani. Konsisten pula menghadirkan ilmu para ulama di tengah kehidupan masyarakat.
Lalu ada Nusron Wahid. Saya ingat betul era ini. Nusron itu tipe petarung. Di bawah kendalinya, Ansor menjadi jauh lebih berani secara ideologis. Dia berani tampil beda, melawan arus radikalisme secara telanjang, dan menjadikan Ansor pemain kunci dalam peta politik nasional. Ansor waktu itu seperti "mobil kencang" yang lari di jalur cepat.
Nusron juga membawa perubahan paradigmatik yang signifikan selama memimpin PP GP Ansor (2010-2015). Terutama dalam merombak sistem kaderisasi menjadi lebih inklusif dan profesional. Keunggulan utamanya? Pendekatan merangkul kader NU dari berbagai latar belakang keahlian, profesi, dan akademisi. Hasilnya, Ansor jadi lebih beragam, tidak lagi terbatas pada kaum muda agamawan semata. Lewat tiga visi besarnya revitalisasi nilai, pengkaderan, dan pemberdayaan Nusron sukses menjadikan Ansor organisasi yang mandiri secara ekonomi, modern, dan solid. Dia mengombinasikan kekuatan tradisional pesantren dengan kemampuan manajerial modern.
Kemudian Gus Yaqut, Yaqut Cholil Qoumas. Dia membawa Ansor ke level "pengamanan total". Tak hanya memimpin, tapi menanamkan kebanggaan. Di era Gus Yaqut, Banser bertransformasi menjadi satuan yang modern, tertata, dan responsif terhadap isu-isu kebangsaan. Yaqut berhasil mengukuhkan Ansor sebagai benteng ideologi yang tak bisa ditawar.
Sekarang, estafet ada di tangan Mas Addin Addin Jauharudin. Dia membawa napas baru. Kombinasi kaderisasi yang metodologis dan penguatan ekonomi kader. Di era digital ini, Addin dituntut menjadikan Ansor tidak hanya kuat di lapangan, tapi juga kuat di narasi digital dan kemandirian organisasi.
Peningkatan kualitas SDM di tubuh Ansor saat ini patut disyukuri. Sebuah keberhasilan transformasi kaderisasi yang luar biasa. Pencapaian akademik hingga tingkat Doktor dan Profesor, serta tersebarnya kader di posisi strategis seperti menteri, KPU, Bawaslu, dan partai politik menunjukkan bahwa Ansor mampu mencetak pemimpin publik yang mumpuni. Ini menegaskan bahwa kader Ansor kini tidak hanya kuat dalam basis kultural, tetapi juga mampu menguasai struktural kebangsaan dan birokrasi. Dampaknya signifikan dalam pengambilan kebijakan strategis negara.
Namun begitu, pencapaian gemilang di ranah akademik dan birokrasi ini menyisakan refleksi mendalam. Minimnya jumlah kader yang terjun di dunia teknologi dan digital agak mengkhawatirkan. Di era disrupsi informasi saat ini, penguasaan technopreneurship, kecerdasan buatan, dan keahlian siber merupakan medan juang baru yang krusial. Keberhasilan penguasaan ruang publik nyata harus segera diimbangi dengan dominasi di ruang digital. Agar Ansor tidak hanya menjadi penggerak struktur, tetapi juga penentu arah teknologi demi kemaslahatan umat dan bangsa.
Jujur, menjadi Ansor hari ini berat. Tantangannya bukan lagi penjajah bersenjata, tapi penjajah digital: hoaks, intoleransi, dan polarisasi. Ansor harus tetap menjadi "mobil penggerak" yang tidak boleh mogok. Tidak boleh alergi pada kemajuan, tapi harus tetap memegang teguh dawuh kiai.
Selamat Harlah GP Ansor. Teruslah "Tangan di Atas" untuk NU dan NKRI. Karena jika Ansor goyah, saya yakin NU akan merasakan dampaknya. Dan jika NU goyah, Indonesia sedang dalam bahaya. Jayalah Ansor, Jayalah Banser! Wallahu'alam bissowab.
KH Imam Jazuli Lc., MA
Alumni Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri; Alumni Universitas Al-Azhar, Mesir, Dept. Theology and Philosophy; Alumni Universiti Kebangsaan Malaysia, Dept. Politic and Strategy; Alumni Universiti Malaya, Dept. International Strategic and Defence Studies; Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon; Wakil Ketua Pimpinan Pusat Rabithah Ma'ahid Islamiyah (Asosiasi Pondok Pesantren se-Indonesia); Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Periode 2010-2015.
Artikel Terkait
Wali Kota Tangerang Raih Penghargaan Nasional atas Inovasi Kesehatan Ibu dan Anak
Wakil Ketua Komisi I DPR Desak PBB Evaluasi Perlindungan Pasukan UNIFIL Usai Praka Rico Gugur Diserang Israel
Dua Pria Terlibat Keributan di KRL Jakarta-Bogor, Diduga Berawal dari Dugaan Pelecehan
Pasutri Diduga Curi Motor di Parung, Bawa Anak Kecil saat Beraksi