Jas Hujan Laris Manis di Pasar Asemka, Pedagang Raup Untung dari Hujan Tak Henti

- Jumat, 23 Januari 2026 | 18:18 WIB
Jas Hujan Laris Manis di Pasar Asemka, Pedagang Raup Untung dari Hujan Tak Henti

Hujan sepertinya tak mau beranjak dari Jakarta. Hari-hari ini, langit terus saja menggelap dan guyuran air menjadi pemandangan serta tantangan yang tak terhindarkan bagi siapa pun yang harus tetap berkutat dengan rutinitas di luar ruangan. Di tengah kondisi seperti ini, satu benda sederhana tiba-tiba jadi barang wajib: jas hujan.

Bagaimana dampak cuaca ini terhadap para pedagang? Untuk mengetahuinya, kita bisa menyambangi Pasar Asemka, di bawah Flyover Pasar Pagi, Jakarta Utara. Suasananya ramai, seperti biasa.

Yang langsung menarik perhatian adalah kios-kios yang dengan sigap menempatkan tumpukan jas hujan warna-warni di bagian paling depan. Barang ini seperti magnet, sengaja dipajang untuk menangkap mata para pejalan kaki yang basah kuyup. Di sekelilingnya, barang dagangan lain seperti masker atau kaus kaki tampak hanya menjadi pelengkap belaka.

Dan strategi itu terbukti. Banyak orang singgah, tak cuma untuk membeli satu dua buah. Beberapa pembeli bahkan mengambilnya dalam jumlah banyak bertumpuk-tumpuk lalu diangkut dengan susah payah di jok belakang motor. Permintaannya memang sedang tinggi-tingginya.

Rizal (26), salah seorang pedagang di sana, mengaku kalau jas hujan bukanlah barang andalannya sepanjang tahun.

"Saya jual jas hujan sih iya. Cuma ya nggak setiap saat. Biasanya cuma pas musim hujan aja baru keluar," ujarnya pada Jumat (23/1).

Namun begitu, di momen seperti sekarang, penjualannya bisa meledak. Rizal menyebut, dalam sehari jas hujan di lapaknya bisa laku hingga belasan lusin.

"Kurang lebih 10 lusin lah per hari. Lima sampai sepuluh gitu. Kalau hujannya terus-terusan dari pagi sampai malam, ya bisa lebih dari itu," katanya.

Cerita serupa datang dari Roni (32), pedagang lain di pasar yang sama. Ia membenarkan lonjakan permintaan yang signifikan. Di kiosnya, jas hujan bahkan terjual berkarung-karung setiap hari.

"Setiap hari pasti ada yang beli. Minimal itu 5 karung, paling sedikit. Kadang sampai 10 karung," ujar Roni.

Dengan semangat, ia lalu merinci hitungannya.

"Satu karung isinya 42 lusin. Kalau dihitung per biji, 12 dikali 42 berarti sekitar 480 buah per karung. Nah, sehari itu bisa 5 karung laku."

Sejak hujan rajin turun, jas hujan jadi primadona dan barang paling laris di kiosnya, mengalahkan produk lainnya.

"Iya, belakangan ini yang paling cepat habis ya jas hujan," ucapnya.

Laris Manis di Tangan Reseller, Model Plastik Paling Dicari

Soal harga, Roni menjelaskan untuk pembelian satuan, jas hujan di kiosnya dijual Rp 10 ribu per buah. Tapi kenyataannya, yang beli per satuan justru minoritas.

"Kalau untuk pengecer ya harganya segitu. Tapi kebanyakan belinya per lusin. Harganya bervariasi, ada yang Rp 30 ribu, Rp 45 ribu, sampai Rp 55 ribu per lusinnya," jelasnya.

Pembelian dalam jumlah besar itu, menurut Roni, biasanya untuk dijual kembali. Mereka adalah para reseller yang kemudian menjajakan jas hujan di pinggir-pinggir jalan atau lokasi strategis lainnya.

Dari sekian jenis yang ada, ternyata jas hujan berbahan plastik tipis masih menjadi favorit utama.

"Kebanyakan pilih yang plastik. Alasannya simpel dan harganya terjangkau buat mereka," katanya.

Roni, yang sudah berjualan sejak masa pandemi, paham betul seluk-beluk produknya. Meski laris, ia mengakui jas hujan plastik bukan yang terbaik kualitasnya.

"Bedanya kan di bahan. Yang murah itu plastik. Kalau yang bagus dari bahan parasut. Bahannya lebih awet, tahan panas matahari juga," paparnya.

Ia juga angkat bicara soal masalah klasik: jas hujan yang rembes. Menurut Roni, kunci utamanya ada di metode pembuatan.

"Kalau mau yang anti rembes, carinya yang model press. Itu kan tidak ada celah untuk air masuk. Kalau yang dijahit, lama-lama air bisa merembes lewat lubang jahitannya. Yang press tidak," jelas Roni dengan rinci.

Sebagai penutup, ia berbagi tips sederhana. Untuk mendapatkan jas hujan yang benar-benar kedap air, Roni menyarankan untuk mencari bahan sejenis karet dengan teknik press.

"Cari yang bahannya karet, model press. Itu yang terjamin, nggak bakal tembus air," tutupnya.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar