PERTANYAAN ITU
Adakah Doa Qunut Allāhummahdinā fīman hadait… dalam Kutubus Sittah?
Alen Y. Sinaro
Awalnya cuma obrolan ringan di grup. Soal satu amalan yang oleh kebanyakan ulama sih dianggap sunnah. Tapi lalu meluas. Muncul klaim yang bikin mata berkedip: shalat Subuh tanpa qunut dinyatakan tidak sah. Imbasnya, ada jamaah yang sampai sujud sahwi kalau imamnya tak membacanya. Dari sini, muncullah sebuah pertanyaan spesifik. Bukan untuk memancing, tapi murni untuk memastikan: kalau urusan qunut dianggap begitu penting, sebenarnya di mana sih letak teks doa Allāhummahdinā fīman hadait… itu dalam kitab-kitab hadits induk Kutubus Sittah?
Pertanyaannya lugas. Jelas. Dan waktu untuk menjawabnya diberikan cukup lama. Tapi yang terjadi? Jawabannya malah kemana-mana. Emosi menguasai, serangan personal bertebaran, tapi sama sekali tidak menyentuh inti persoalan. Padahal, yang ditanyakan cuma satu: ada atau tidaknya lafaz itu dalam referensi utama.
Menurut sejumlah saksi, penelusuran pernah dilakukan. Saya sendiri pernah mengecek melalui proyek besar Kompilasi Hadits karya almarhum Dr. Ahmad Fathullah Guru Mughni. Upaya monumental yang mengindeks ribuan kitab. Nah, lafaz doa itu memang ada. Tapi bukan di Kutubus Sittah. Ia hanya muncul di dua kitab kecil yang jarang didengar, itupun konteksnya untuk Qunut Witr, bukan Subuh.
Kesimpulannya cukup mengejutkan. Dalam lebih dari 32.000 hadits yang termuat dalam Kutubus Sittah sumber paling otoritatif setelah Al-Qur'an lafaz persis itu tidak ditemukan. Ini fakta tekstual, bukan soal pendapat madzhab. Memang, sang penyusun proyek itu telah wafat sebelum pekerjaannya seratus persen selesai. Jadi, ruang untuk konfirmasi ulang tetap terbuka. Bisa saja ada kesalahan teknis di awal. Tapi ya, data yang ada sekarang menunjukkan hal tersebut.
Di sisi lain, fakta tetaplah fakta. Bagi yang biasa mendasarkan amalan pada rujukan yang ketat, temuan ini tentu akan dibaca dengan kepala dingin. Sebaliknya, bagi yang punya cara lain, sikapnya pasti berbeda.
Maka, mari kita diskusi dengan elegan. Utamakan referensi, bukan retorika kosong. Agar percakapan kita tetap berada di jalur ilmu, jauh dari kebisingan yang tak perlu.
Dan, biarlah umpatan kembali pada yang melontarkannya.
Artikel Terkait
Menteri Agama: Media Arus Utama Harus Jadi Perekat Persatuan Bangsa di Tengah Derasnya Informasi
Indonesia Siap Jadi Pusat Dialog Islam Moderat Dunia Lewat Konferensi Imam Masjid Internasional 2026
Andi Taletting Langi Resmi Pimpin IKA Ilmu Politik Unhas, Canangkan Lima Program Prioritas
Petani Papua Siap Bergabung dalam Program Cetak Sawah, Pemerintah Siapkan Anggaran Rp5 Triliun