Rabu lalu, Gedung Social Militaire di Taman Budaya Yogyakarta ramai. Bukan pertunjukan seni biasa yang digelar, melainkan pameran karya mahasiswa Ilmu Komunikasi Unisa Yogyakarta bertajuk Galaksi Volume 5. Di sini, mereka memajang beragam hasil kerja: jurnalistik, visual, hingga film pendek. Semuanya berpusat pada satu tema besar: Gastronomi.
Nah, gastronomi ini dipilih bukan tanpa alasan. Menurut Ketua Panitia, Ilyas Abdurrahman, konsep itu mewakili perjalanan panjang makanan, dari bahan mentah sederhana hingga jadi sajian bernilai. Pendekatan ini dirasa pas untuk mengupas Program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang jadi objek kajian utama tahun ini.
“MBG adalah program besar, tetapi tentu tidak steril dari persoalan. Di situ mahasiswa masuk, membaca celah, lalu menyampaikannya lewat karya,”
ujar Ilyas.
Jadi, pameran ini lebih dari sekadar display karya. Ia jadi ruang belajar untuk menguliti kebijakan publik, melihat praktik di lapangan, dan meraba dampaknya bagi orang banyak.
Karya yang ditampilkan pun beragam sudut pandangnya. Ada yang menyoroti kualitas gizi dan tata kelola, tak luput juga dari kasus keracunan atau efisiensi anggaran. Dampak program terhadap usaha kantin sekolah dan tenaga kerja juga jadi bahan perbincangan.
“Tidak semua karya bernada negatif. Ada juga yang menampilkan sisi positif MBG. Tapi sebagai mahasiswa, sikap kritis tetap harus dijaga,”
tambah Ilyas.
Acara berlangsung hidup. Pengunjung disuguhi rangkaian karya lintas medium. Dari foto-foto produk makanan bergizi karya angkatan 2025, yang tak cuma visual tajam tapi juga dilengkapi narasi. Lalu, ada peluncuran Com.23 Magazine, majalah jurnalistik mendalam dari angkatan 2023 yang mengupas MBG dari banyak sisi: kantin sekolah, peran SPPG, sampai soal sampah makanan.
Sebagai penutup, sembilan film pendek karya angkatan 2024 diputar. Isu MBG dikemas dengan cara yang segar; ada yang dramatis, menegangkan, bahkan ada yang dikemas dengan humor. Eksplorasi genre ini menunjukkan bagaimana komunikasi visual bisa mengambil banyak bentuk.
Menurut Dekan FEISHum Unisa Yogyakarta, Annisa Warastri, Galaksi Vol. 5 ini adalah bagian penting dari proses pembelajaran. Di sini, teori komunikasi benar-benar dipertemukan dengan isu publik yang nyata.
“Ini bukan sekadar pameran, tapi bentuk kritik membangun mahasiswa terhadap kebijakan pemerintah,”
katanya.
Pendapat senada datang dari dosen pembimbing, Dias Reginan Pinkan, yang mengapresiasi proses kreatif mahasiswa dalam mengolah isu aktual. Sementara salah satu pengunjung, Al Fattah, menilai tema yang diangkat sangat relevan.
“Isunya dekat dengan masyarakat dan disajikan dengan cara yang menarik,”
ungkapnya.
Begitulah. Pameran yang berlangsung satu hari itu mungkin sudah berakhir. Tapi percakapan dan kritik yang dimulainya, tampaknya masih akan berlanjut.
Artikel Terkait
AC Milan vs Juventus Imbang Tanpa Gol, Peluang Liga Champions Terancam
Inter Milan Gagal Pertahankan Keunggulan Dua Gol, Ditahan Imbang Torino 2-2
Gubernur Sulsel Groundbreaking Jalan 141 Kilometer Buka Isolasi Wilayah Seko di Luwu Utara
Lille Kalahkan Paris FC 1-0 Lewat Penalti, Kokoh di Papan Atas Ligue 1