IKN: Dukungan Penuh, Tapi Kapan Pindahnya?

- Rabu, 21 Januari 2026 | 10:00 WIB
IKN: Dukungan Penuh, Tapi Kapan Pindahnya?

Saya Percaya 100% IKN Itu Bagus.

Gimana nggak bagus, coba? Uang rakyat yang dipakai buat membangunnya mencapai lebih dari 100 triliun rupiah. Kalau hasilnya jelek, ya benar-benar keterlaluan. Coba lihat saja: gedung-gedungnya menjulang, desainnya hijau dan modern, penuh dengan teknologi canggih. Malam hari, lampu-lampu gemerlap menerangi kota baru itu. Memang keren pol. Tidak ada keraguan sedikitpun.

Tapi, ada satu pertanyaan yang terus menggelitik. Kapan, sih, rencananya pindah ke IKN? Ayolah, dengan dana sebesar itu, saat ini penghuninya baru sekitar 1.200 Aparatur Sipil Negara ditambah lima ribu lebih pekerja konstruksi. Jumlah yang sangat timpang dibandingkan dengan besarnya investasi.

Di sisi lain, harapan saya agar IKN sukses itu sangat besar. Gagal? Jangan sampai. Bayangkan saja, 100 triliun lebih tadi belum termasuk suntikan dana dari BUMN dan investor swasta. Harganya mahal sekali.

Makanya, saya selalu mendorong agar perpindahan itu segera dilakukan. Isi kota itu! Ini juga untuk kalian yang sangat antusias mendukung IKN. Dorong terus agar kota itu benar-benar hidup dan dihuni.

Alasannya sederhana tapi crucial. Per hari ini, untuk sekadar merawat gedung, jalan, dan taman-taman di IKN, diperlukan anggaran lebih dari 300 miliar rupiah per tahun. Angka itu setara dengan hampir 1 miliar rupiah per hari. Dan kebutuhan itu dipastikan akan terus membengkak seiring waktu.

Akan seperti apa jadinya?

Membayangkannya saja sudah menyenangkan. Jika Presiden, Wakil Presiden, para Menteri, anggota DPR dan DPD, beserta seluruh pejabat tinggi, ASN pusat, dan keluarga mereka benar-benar tinggal dan beraktivitas di IKN. Pasti akan memberi dampak besar. Pembangunan Indonesia Timur bisa terpacu, ketimpangan berkurang drastis.

Jakarta pun mungkin bisa bernapas lebih lega, tidak lagi sesak oleh segala aktivitas pemerintahan pusat.

Jadi, yuk para pendukung IKN. Doronglah mereka untuk segera pindah. 🙂

(Tere Liye)

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar