Tapi kini, gurunya sendiri disuruh hidup dari recehan sistem. Ini bukan sekadar lupa jasa. Ini seperti meludahi akar pohon yang menopang diri sendiri.
Kalau sekarang kita melihat bangsa ini dipenuhi orang yang gemar pamer tapi kosong kepala, tukang bacot tapi tanpa empati, jangan salahkan generasinya. Salahkan negara yang menganggap profesi pencetak generasi itu tak penting.
Intinya, ketika gaji guru kalah dari tukang cuci piring, masalahnya bukan pada si tukang cuci. Ini murni soal prioritas negara yang kacau balau. Dan negara yang salah menata prioritas, pelan-pelan pasti akan salah arah, dan hancur dari dalam.
Lalu, bagaimana dengan mimpi Indonesia Emas 2045? Pertanyaan itu seharusnya membuat para wakil rakyat di Senayan meringis.
Bagaimana mungkin mencapai Indonesia Emas, kalau "penambang emas" di dalam kepala manusia justru diperlakukan seperti pengemis? Dari awal, pesannya sudah jelas: "Kalau kamu pintar, jangan jadi guru. Kalau mau hidup layak, cari profesi lain."
Ini bukan kebetulan. Ini desain yang mengarah pada kegagalan jangka panjang.
Indonesia Emas butuh fondasi yang kuat: otak yang jernih, logika yang lurus, karakter yang waras. Semua itu dibentuk di ruang kelas, bukan di baliho, pidato, atau video TikTok.
Tapi orang yang bertugas membentuk semua itu, justru sibuk memikirkan hal yang paling mendasar: besok makan apa.
Mau mencetak generasi emas dengan guru yang setiap bulan pusing memikirkan utang? Ini sama absurdnya dengan mau membuat mobil balap, tapi menghemat pada mesinnya. Bodinya boleh mengkilap, catnya mewah, tapi mesinnya rongsokan. Ya wajar kalau jalannya ngos-ngosan.
Negara ini terlalu fokus berinvestasi pada etalase, dan mengabaikan dapurnya. Bangga membangun gedung sekolah baru, membeli laptop, mengganti kurikulum. Tapi nasib orang yang menggunakan semua fasilitas itu? Mereka disuruh bertahan dengan doa dan slogan kosong.
Indonesia Emas bukan cuma soal tahun 2045. Itu tentang apa yang kita lakukan hari ini. Siapa yang kita beri makan, siapa yang kita hormati, siapa yang kita anggap penting.
Kalau hari ini guru masih dilihat sebagai beban anggaran, jangan harap dua puluh tahun lagi kita dapat generasi emas. Yang ada hanyalah generasi kalengan, mental kerupuk, dan logika yang bengkok.
Ironisnya, kita rajin mengirim anak-anak terbaik kita ke luar negeri. Kita bangga saat mereka bekerja di Google, NASA, atau Singapura.
Tapi kita jarang bertanya, "Kenapa mereka tidak mau pulang? Kenapa tidak mau mengajar di sini?"
Jawabannya sederhana: mereka tidak bodoh. Mereka tahu, di sini orang pintar sering disuruh miskin. Di sini, idealisme dihargai dengan tepuk tangan, bukan dengan kesejahteraan yang nyata.
Jadi, Indonesia Emas? Selama guru masih menjadi tumbal dalam sistem ini, itu cuma slogan belaka. Selama pendidik diperlakukan seperti pengemis berseragam, itu tetap mimpi di siang bolong.
Negara ini tidak kekurangan bahan pidato. Yang kurang adalah rasa malu. Sebab, tidak ada bangsa waras yang bisa berharap masa depannya cerah, jika orang-orang yang seharusnya menyalakan pelitanya, justru dibiarkan hidup dalam gelap.
Artikel Terkait
Sastra di Ujung Tanduk: Generasi Digital dan Kematian Imajinasi
Usia Khadijah Saat Menikah: Benarkah 40 Tahun atau Justru 28?
Wali Kota Madiun Ditangkap KPK Usai Dilantik, Fee Proyek dan CSR Jadi Titik Tumpu
Kucing Menyebrang, Tabrakan Beruntun Terjadi di Bypass Ngurah Rai