Setelah Perjalanan Berliku, Tjenté Manis Hoedjan Gerimis Akhirnya Menyapa Pembaca

- Selasa, 20 Januari 2026 | 06:25 WIB
Setelah Perjalanan Berliku, Tjenté Manis Hoedjan Gerimis Akhirnya Menyapa Pembaca

JAKARTA Chairil Gibran Ramadhan, atau yang biasa disapa CGR, kembali merilis karya terbarunya. Buku puisi berjudul Wapen van Holland ini adalah yang kelima dalam seri Setangkle Puisi Sejarah & Budaya ~ Betawi, Batavia, Jakarta. Menariknya, langkah CGR kali ini mendapat sorotan khusus dari Cecep Syamsul Hari.

Tokoh sastra itu, dalam endorsement-nya, menuliskan pandangan yang cukup dalam.

“CGR selama ini kan dikenal sebagai sastrawan sekaligus peneliti sejarah dan budaya Betawi. Itu jadi tema sentral prosa dan esainya. Nah, kali ini ia beralih ke puisi, dengan menyandarkan pada ekspresi skematik bahasa Indonesia dan dialek Betawi yang diberi nuansa kesilaman lewat ragam ejaan. Ini patut diapresiasi.”

Cecep melanjutkan, seorang sastrawan sejatinya harus berada dalam pusaran historisitas bangsanya. “Di situlah ia diharapkan bisa menjadi konstitusi semesta, menarik benang merah antara masa silam, kini, dan nanti. Hanya yang berani masuk ke ranah itulah yang mampu melakukan pembaruan. Dan sepertinya, CGR sedang memasuki ranah itu,” tulisnya.

Sebenarnya, eksplorasi CGR atas tanah kelahirannya sudah dimulai jauh sebelum puisi-puisinya terbit. Ia sudah mengeksplorasi budaya dan sejarah Betawi lewat cerpen, menggunakan semua ejaan yang pernah berlaku di Indonesia, termasuk ragam dialek. Baca saja kumpulan cerpen perdananya, Sebelas Colen di Malam Lebaran terbit 2008. Kita bukan cuma diajak menikmati suasana masa lalu yang risetnya ketat lapangan, pustaka, wawancara tapi juga dibawa membayangkan zaman dulu lewat pilihan ejaan yang ia pakai.

Ini yang membedakannya dari para penulis Betawi pendahulu. Mereka tak pernah mengeksplorasi ragam ejaan dan bahasa, kecuali karyanya memang ditulis di tahun-tahun ejaan itu berlaku. CGR juga beda dalam mengolah cerita. Gaya realis ia pakai, tapi surealis juga. Sesuatu yang jarang ditemui pada karya M. Balfas, SM Ardan, atau Zaidin Wahab.

Nah, puisinya sendiri bagaimana? Puisi CGR itu terang-benderang. Bukan puisi gelap apalagi gelap-gulita yang bikin pusing. Semua karyanya berpijak di bumi, hasil riset lapangan, pustaka, dan wawancara. Rencananya, semua puisi yang ditulis antara 1996-2006 selama ini ia lebih ingin dikenal sebagai cerpenis dan esais akan diterbitkan dalam 11 buku. Judul-judulnya seperti Koningin van het Oosten, Batavia Oud en Nieuw, hingga Gedong Bitjara.

Namun begitu, jalan menuju penerbitan tak selalu mulus. Tjenté Manis Hoedjan Gerimis contohnya. Buku ini rencananya terbit 11 September 2017, tapi tak kunjung jadi. Ada saran dari seorang kawan, agar proposal buku seni-budaya-sejarah diajukan ke lembaga swasta atau tokoh mapan. Mengajukan ke instansi pemerintah? Kemungkinan hasilnya kecil.

Saran itu akhirnya mangkrak. Pengalaman “buang-buang umur” sebelumnya bikin CGR dan penerbitnya, Padasan, kapok. Seperti saat mengajukan Kembang Goyang: Orang Betawi Menulis Kampungnya (2011) atau Sejarah Jawa Barat karya Saleh Danasasmita dkk yang molor dari rencana 2014 ke 2018. Mereka sudah melanglang ke berbagai kalangan pejabat, dari bupati sampai gubernur, tapi nihil. Begitu pula dengan Pusaka Tionghoa karya Liem Thian Joe. Butuh waktu tujuh tahun, dari 2013 ke 2020, dan harus menghadap banyak tokoh Tionghoa Indonesia yang mapan, sebelum akhirnya terbit.

Persoalan dana dan kepedulian ini rupanya bukan hal baru. Mona Lohanda, sejarawan dan arsiparis FIB-UI yang juga Cina Benteng, pernah berkomentar pedas.

“Orang kita pemikirannya memang baru sampai pada urusan perut ke bawah, bukan dada ke kepala. Dari jaman saya muda, ya seperti itu.”

Memang, kerja intelektual seringkali tak seksi dibanding acara hiburan. Coba bandingkan dengan penggalangan dana untuk pemilihan pemimpin ibukota yang bisa dapat miliaran rupiah dalam sejam. Sementara pemerintah yang diharapkan punya kepedulian, seringkali lebih tertarik mendukung acara panggung yang menghabiskan anggaran besar, tapi cuma tinggalkan suara bising dan sampah. Semua ikhtiar Penerbit Padasan kerap terasa seperti membuang waktu, tenaga, dan biaya saja.

Nasib serupa menimpa Tjenté Manis Hoedjan Gerimis. Awalnya ada rencana kolaborasi dengan Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI). Dua pertemuan di tempat yang jauh dan sulit, berakhir tanpa kejelasan. Tujuh dummy buku yang sudah diberi logo PSMTi pun jadi kenangan pahit. Kejadian terulang dengan Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) yang konon didukung Sembilan Naga. Pertemuan penuh niat baik pada April 2025 pun lagi-lagi cuma jadi kenangan. Padahal, buku ini punya buku sandingan, Dajoeng Sampan Dibawah Boelan.

Sulit sekali ternyata berharap pada kalangan Tionghoa Indonesia dari bidang seni, budaya, politik, sampai raksasa bisnis untuk peduli pada karya intelektual yang mengangkat sejarah leluhur mereka sendiri. Apakah ini membenarkan stereotip bahwa mereka sangat bertuhan pada uang? Entahlah. Tapi faktanya, buku-buku penting seperti The Kapitan Cina of Batavia karya Mona Lohanda justru dicetak atas dukungan Ford Foundation (AS) dan KITLV (Belanda). Tak ada kontribusi berarti dari lembaga Tionghoa Indonesia sendiri untuk sang begawan sejarah asal Benteng itu.

Menurut David Kwa, Pengamat Budaya Tionghoa-Peranakan, Tjenté Manis Hoedjan Gerimis punya nilai khusus.

“Inilah buku puisi pertama di Indonesia yang seluruh isinya mengangkat sejarah dan budaya kalangan Tionghoa Peranakan di Indonesia. Ia ibarat buku sejarah yang mengajak kita mendatangi setiap lekuk Tanah Betawi dari masa Batavia hingga Jakarta, lewat sudut pandang puisi.”

Kwa menambahkan, kenikmatan membacanya makin terasa berkat kosa kata, ragam bahasa, dan ejaan yang menguatkan nuansa masa lalu hasil riset lapangan dan pustaka yang keras. “Kerja-kerja seperti ini, setau saya, memang kedemenan CGR,” ujarnya. Menariknya, rentang penulisan puisi ini (1996-2016) menunjukkan bahwa tren “puisi esai” yang ramai beberapa tahun lalu, ternyata sudah jauh digarap CGR.

Pengamat sastra Eka Budianta juga memberi apresiasi.

“Selamat untuk terbitnya buku ini. CGR telah memberikan perspektif waktu, tempat, dan cara berpikir yang berbeda. Mungkin saja beberapa idiom, logat, dan temuannya bisa diadopsi untuk memperindah zaman sekarang maupun yang akan datang.”

Budianta bahkan menyoroti kebiasaan personal CGR, seperti menutup komunikasi dengan “Tabe srenta hormat!”.

Akhirnya, setelah perjalanan panjang, buku ini diluncurkan pada Jumat, 23 Januari 2026, di PDS HB Jassin, Taman Ismail Marzuki. Acara yang menampilkan CGR, Idrus F. Shahab (mantan wartawan senior Tempo), dan Nuthayla Anwar (penyair dan Wakil Rektor UIA) ini dipandu oleh M. Syakur Usman dan Muhammad Sartono.

Sejumlah tokoh hadir memberi sambutan, seperti Aba Mardjani, Diki Lukman Hakim dari PDS HB Jassin, dan Prof. Yasmine Zaki Shahab dari FISIP UI. Prof. Edi Sukardi dari UHAMKA bahkan memberi hibah 10 eksemplar buku. Sementara, panggung pembacaan puisi diisi oleh nama-nama seperti Putra Gara, Sam Mukhtar Chaniago, dan Sihar Ramses Simatupang.

Acara ini hasil kerja sama Penerbit Padasan dan PDS HB Jassin, dengan dukungan Betawi Institute, PSB UHAMKA, Forum Jurnalis Betawi, dan sejumlah komunitas lain. Tak kurang dari 25 media turut meramaikan sebagai partner.

Komentar