Suasana ibadah Minggu pagi di sebuah gereja di Kaduna, Nigeria, berubah jadi mimpi buruk. Kelompok bersenjata yang kerap disebut 'bandit' itu datang tiba-tiba. Mereka menculik 163 jemaat yang sedang beribadah. Peristiwa ini terjadi tanggal 18 Januari, menambah panjang daftar kekerasan di kawasan pedesaan Nigeria bagian Utara.
Serangan terhadap tempat ibadah, baik Kristen maupun Muslim, sayangnya bukan hal baru di sana. Ini cuma yang terbaru dari rangkaian aksi serupa yang terus berulang.
Pastor Joseph Hayab, kepala Asosiasi Umat Kristen Nigeria, menggambarkan suasana mencekam itu. Ia berbicara kepada AFP pada Senin (19/1).
"Mereka datang bergerombol, lalu memblokade pintu masuk gereja," ujarnya.
"Jemaat dipaksa keluar ke semak-semak."
Menurut Hayab, jumlah awalnya bahkan lebih besar. "Sebenarnya, ada 172 jemaat yang diculik. Tapi sembilan orang berhasil kabur, jadi yang masih ditahan ada 163 orang," jelasnya. Nasib mereka kini masih digantungkan pada para penculik itu.
Di sisi lain, laporan-laporan PBB sudah menyoroti penculikan massal ini. Bahkan ada peringatan soal potensi serangan lanjutan di wilayah-wilayah terpencil Kaduna. Situasinya memang makin mencekam.
Sampai berita ini diturunkan, Kepolisian Negara Bagian Kaduna sendiri belum memberikan pernyataan resmi. Tanggapannya masih ditunggu.
Artikel Terkait
Bayi 5 Bulan Tewas dalam Kecelakaan di Manado, Pengemudi Ditetapkan Tersangka
Andi Taletting Langi Terpilih Secara Aklamasi sebagai Ketua IKA Politik Unhas Periode 2026-2030
Dua Pelajar Tewas dalam Kecelakaan Maut di Perempatan Alun-Alun Purwodadi
Purbaya Bantah Isu APBN Hanya Rp120 Triliun, Tegaskan Kas Negara Masih Aman