Keluarga di Pondok Bambu Masih Berdoa untuk Yoga, Operator Foto Udara di Pesawat Hilang Kontak

- Senin, 19 Januari 2026 | 04:30 WIB
Keluarga di Pondok Bambu Masih Berdoa untuk Yoga, Operator Foto Udara di Pesawat Hilang Kontak

Harapan masih bergantung di Pondok Bambu, Jakarta Timur. Di rumah keluarga Nauval, doa-doa terus dipanjatkan untuk Yoga Nauval, operator foto udara yang menjadi salah satu penumpang pesawat ATR 42-500 yang hilang kontak di Gunung Bulusaraung. Penerbangan dari Yogyakarta menuju Makassar itu berakhir tragis, dan kondisi Yoga hingga kini belum diketahui.

“Kita semua tahu, beliau jadi korban di Maros. Dan sampai saat ini, kami belum mendapat kabar apapun tentang keberadaannya,” ucap Yuda, paman Yoga, suaranya berat. Malam Minggu (18/1) itu, ia memimpin doa bersama di rumah orang tua Yoga.

“Kami mengajak bapak-ibu sekalian untuk turut mendoakan. Semoga Allah berikan mukjizat terbaik untuk saudara kami, Yoga Nauval,” lanjutnya.

Yoga bukan satu-satunya. Dua rekan kerjanya dari Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) juga ada di pesawat yang sama. Mereka bertiga tengah dalam tugas. Selain 10 penumpang, pesawat Indonesia Air Transport itu juga mengangkut 7 awak kabin. Nasib seluruhnya masih gelap.

Laporan dari Medan Pencarian

Sejak laporan hilang kontak pertama masuk Sabtu siang, operasi pencarian langsung digelar. Dan pada Minggu (18/1), tim SAR gabungan akhirnya mendapat titik terang. Mereka menemukan serpihan badan pesawat. Lebih dari itu, satu korban berhasil ditemukan.

“Selain serpihan, satu korban sudah ditemukan,” kata Mayjen TNI Bangun Nawoko, Komandan Kodam XIV Hasanuddin, di Posko Balocci, Pangkep.

Bangun menjelaskan, informasi itu ia konfirmasi langsung via radio dengan tim di puncak Gunung Bulusaraung. Korban ditemukan di sebuah jurang, di sebelah utara puncak. “Saya sudah yakinkan, satu korban telah ditemukan,” tegasnya.

Tapi pekerjaan belum selesai. Evakuasi korban ke posko induk di Desa Tompo Bulu ternyata tak mudah. Cuaca buruk dan medan terjal jadi tantangan berat. “Ini butuh kerja keras. Medannya sangat sulit,” ucap Bangun.

Di kesempatan lain, Muhammad Arif Anwar dari Basarnas Makassar memberi sedikit detail. Korban yang ditemukan sekitar pukul 14.20 WITA itu berjenis kelamin laki-laki. Sayangnya, identitasnya masih misteri.

Duka dan Respons Pemerintah

Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi telah terbang ke Makassar. Di sana, ia menyampaikan belasungkawa yang mendalam.

“Pertama, kami sampaikan empati dan keprihatinan kepada keluarga awak dan penumpang. Kami pastikan akan berikan pendampingan penuh, dukungan informasi, dan layanan yang diperlukan,” kata Dudy, Minggu (18/1).

Ia menegaskan, respon timnya berjalan cepat. Segala sumber daya dikerahkan: Basarnas, TNI, Polri, AirNav, BMKG, hingga pemerintah daerah. Semua bahu-membahu.

Dugaan Sementara dan Pentingnya Kotak Hitam

Lalu, apa penyebabnya? Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono punya dugaan kuat. Pesawat diduga menabrak lereng Gunung Bulusaraung.

“Ada indikasi pesawat menghantam bukit atau lereng,” ujar Soerjanto.

Menurut analisis sementara, pilot masih sempat melakukan kendali sesaat sebelum tabrakan. Namun kendali itu tidak penuh. Cuaca buruk diduga menjadi faktor kuat di baliknya. “Pilot masih bisa kontrol, tapi tidak dalam kendali penuh,” sambungnya.

Data AirNav menunjukkan pesawat hilang kontak di ketinggian sekitar 4.000 kaki. Kebetulan atau mungkin nasib ketinggian puncak Bulusaraung berada di kisaran yang sama, 1.300 hingga 1.500 meter.

Tapi Soerjanto berhati-hati. Semua ini masih dugaan. Penyebab resmi baru bisa ditetapkan setelah analisis bukti fisik dan data dari kotak hitam. Itu sebabnya, ia berpesan khusus pada tim di lapangan.

“Fokus utamanya temukan black box. Letaknya di ekor pesawat, yang ditemukan dalam kondisi hancur. Saya titipkan ini secara khusus,” tegasnya.

Pernyataan serupa datang dari Menko Infrastruktur Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Medan pegunungan memang berisiko, tapi penyebab pastinya tetap harus menunggu hasil penyelidikan yang komprehensif.

Proses Penjemputan yang Penuh Haru

Sementara pencarian berlangsung, proses identifikasi korban mulai dilakukan. Tim DVI bergerak mendatangi keluarga korban untuk mengambil sampel DNA pembanding.

“Saat ini tim DVI Polda Jawa Barat sedang di kediaman keluarga untuk ambil data antemortem dan DNA,” jelas Kombes Pol Hendra Rochmawan, Minggu (18/1).

Salah satu keluarga yang didatangi adalah keluarga Esther Aprilita S., pramugari pesawat naas itu. Pengambilan data ini langkah krusial untuk memastikan identitas korban dengan cara ilmiah.

Saksi Mata di Puncak Gunung

Kisah pilu ini ternyata disaksikan langsung oleh dua pasang mata. Reski (20) dan Muslimin (18), dua pendaki yang sedang menikmati puncak Bulusaraung, menjadi saksi hidup tragedi itu.

Reski bercerita, mereka baru saja tiba di summit. Pemandangan indah terbentang. Tiba-tiba, dari arah depan, sebuah pesawat terlihat terbang rendah.

“Kami lihat pesawat terbang rendah, lalu menabrak lereng gunung. Tidak jauh dari kami,” kenang Reski, Minggu (18/1).

Tabrakan itu diikuti ledakan dan bola api. Mereka terpaku, ketakutan. Jaraknya cuma sekitar 100 meter. “Pesawat meledak dan terbakar. Serpihan berhamburan ke mana-mana,” ujarnya, menggambarkan horor yang mereka alami siang itu.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar