Museveni Kembali Menang, Uganda Terbelah di Bawah Bayang-Bayang Ketakutan

- Minggu, 18 Januari 2026 | 18:00 WIB
Museveni Kembali Menang, Uganda Terbelah di Bawah Bayang-Bayang Ketakutan

Kampala masih tegang. Setelah pemilu Kamis lalu yang diwarnai ketegangan dan pemadaman internet, Yoweri Museveni akhirnya resmi terpilih untuk masa jabatan ketujuhnya. Pengumuman Komisi Pemilu pada Sabtu (18/1) itu menyebut sang presiden 81 tahun itu meraih 71,65 persen suara. Kemenangan ini sekaligus memperpanjang cengkeraman kekuasaannya di Uganda menjadi empat dekade.

Namun begitu, suasana di lapangan jauh dari kata damai. Sebelum hasil diumumkan, sudah beredar laporan tentang setidaknya sepuluh orang tewas. Intimidasi terhadap pendukung oposisi dan kelompok sipil juga marak terjadi. Menurut para pengamat Afrika yang dilansir AFP, aksi-aksi penangkapan bahkan penculikan telah sukses "menanamkan rasa takut" di tengah masyarakat.

Lawan utama Museveni adalah Robert Kyagulanyi, atau yang lebih dikenal sebagai Bobi Wine. Eks penyanyi berusia 43 tahun yang menyebut diri 'Ghetto President' ini hanya mampu mengumpulkan 24,72 persen suara. Tapi Wine sama sekali tidak mengakui kekalahannya.

Dia menyatakan penolakan total terhadap apa yang disebutnya sebagai "hasil palsu". Wine juga mengaku sedang bersembunyi usai rumahnya digerebek pasukan keamanan.

"Saya tahu bahwa para penjahat ini mencari saya di mana-mana dan saya berusaha sebaik mungkin untuk tetap aman," tulisnya di platform media sosial X.

Klaim Wine langsung dibantah keras oleh polisi. Juru bicara mereka, Kituuma Rusoke, mengatakan tidak ada penggerebekan. Menurutnya, Wine masih ada di rumah, meski memang ada pengerahan pasukan di sekitarnya.

"Kami tidak serta-merta membantah orang-orang mengaksesnya," kata Rusoke kepada wartawan, "tetapi kami tidak dapat mentolerir kejadian di mana orang-orang menggunakan kediamannya untuk berkumpul dan menghasut kekerasan."

Pengerahan pasukan besar-besaran di sekitar ibu kota Kampala memang terlihat jelas. Rupanya, pemerintah Uganda berusaha mencegah gelombang protes seperti yang baru-baru ini melanda negara tetangga, Kenya dan Tanzania.

Dua Wajah Uganda


Halaman:

Komentar