“Gunakan masker pelindung mulut dan hidung,” pesannya. Perlengkapan lain untuk melindungi mata dan kulit juga penting. Tujuannya jelas: menghindari gangguan pernapasan dan menjaga kebersihan air dari kontaminasi abu.
Peningkatan status ini sepertinya sudah bisa ditebak. Sehari sebelumnya, Sabtu (17/1) malam, gunung itu sudah menunjukkan kemarahannya dengan meletus sebanyak 466 kali. Suara gemuruh dan dentuman terdengar jelas dari puncak kawah yang memerah akibat material pijar.
Petugas Pos Pengamatan, Yeremias Kristianto Pugel, mendeskripsikan malam itu dengan detail.
“Terjadi 466 kali letusan. Erupsi disertai lontaran material pijar serta dentuman,” katanya.
Material pijar terlontar ke sektor selatan-tenggara sejauh 100-200 meter. Aliran lava juga terlihat. Selain letusan, gunung itu juga mengalami ratusan gempa embusan dan tremor.
Meski datanya seram, Yeremias berusaha menenangkan. Ia meminta warga tidak panik mendengar suara gemuruh dari kawah.
“Karena suara tersebut merupakan ciri aktivitas gunung api yang sedang berada dalam fase erupsi,” tuturnya.
Nada imbauannya jelas: tetap waspada, ikuti arahan, tapi jangan sampai diteror oleh ketakutan. Gunung itu memang hidup, dan kini ia sedang berbicara lebih keras.
Artikel Terkait
Heboh Bocil Block Blast, Sensasi Viral yang Ternyata Jebakan Klik Berbahaya
Zaman Dajjal Kecil: Saat Kebenaran dan Kepalsuan Tak Lagi Bisa Dibedakan
Duka di Rumah Masa Kecil Yoga, Korban Pesawat Hilang Kontak
Di Balik 790 Mata yang Menatap: Kisah Shelter Bekasi yang Jadi Harapan Terakhir Kucing Jalanan