Di sisi lain, Henri punya pesan keras buat masyarakat biasa. Jangan sekali-kali tergoda menerima uang dari para pemburu kekuasaan, apalagi di momen seperti pemilu atau pilkada.
"Sebagai rakyat, jangan sekali-kali menerima uang dari mereka yang sedang mengejar atau mempertahankan kekuasaan," tegasnya.
Bagi dia, menerima uang itu bukan sekadar transaksi biasa. Itu adalah bentuk pembelaan. "Menerima uang mereka lalu memilih dan mendukungnya, itu sama dengan membela koruptor agar tetap leluasa mencuri kekayaan negara," ujar Henri.
Dengan kata lain, kita secara tak langsung memberi ruang bagi korupsi untuk terus hidup. Bahkan berkembang.
Karena itu, perlawanan terhadap korupsi tak bisa hanya dibebankan pada KPK atau kepolisian. Butuh kesadaran kolektif. Masyarakat harus berani menolak politik uang, sekecil apapun nominalnya. Itulah bentuk perlawanan yang paling nyata.
Harapannya jelas. Demokrasi kita bisa bernapas lebih lega. Kekuasaan nantinya tak lagi dibangun dari fondasi yang bobrok dan hanya menguntungkan segelintir orang, tapi untuk kemaslahatan bangsa yang lebih luas.
Artikel Terkait
Dokter Tifa Tantang Transparansi: 709 Dokumen Jokowi Masih Jadi Misteri
Banjir Rendam Cakung, Brimob Sigap Evakuasi Warga dan Dokumen Penting
Tim DVI Ambil Sampel DNA Keluarga Pramugari Korban Musibah Gunung Bulusaraung di Bogor
Menguak Peta Perang Global: Benarkah Islam Biang Keladi Konflik dan Kemiskinan?