Mengurai Makna Surat Al-Muthaffifin Ayat 29-36
Ayat-ayat ini menggambarkan sebuah adegan sosial yang, jujur saja, masih sering kita saksikan. Orang-orang yang terperosok dalam dosa gemar mengejek dan mencemooh mereka yang beriman. Tatapan sinis, kedipan mata penuh makna semua itu adalah bahasa tubuh yang menyiratkan penghinaan.
Begitu para pendosa ini kembali ke kelompoknya, suasana pun berubah. Mereka riang gembira, seolah baru menyaksikan suatu pertunjukan. Dalam canda mereka, dengan entengnya mereka mencap orang-orang beriman itu sebagai “sesat”.
Padahal, satu hal yang sering terlupa: siapa sebenarnya yang memberi mereka mandat untuk menjadi hakim? Mereka sama sekali tidak ditugaskan sebagai penjaga atau pengawas bagi kaum mukmin.
Nah, di sinilah narasinya berbalik.
Kelak, di Hari Pembalasan, keadaan akan benar-benar terbalik. Orang-orang berimanlah yang akan tersenyum, menyaksikan nasib yang menimpa orang-orang yang dahulu mengingkari kebenaran. Mereka duduk dengan tenang di atas dipan-dipan yang tinggi, memandang sekeliling dengan penuh ketenangan.
Semua itu bukanlah sebuah kejadian tanpa sebab. Ayat terakhir menegaskannya dengan jelas: balasan itu diberikan kepada orang-orang kafir sebagai ganjaran setimpal atas segala perbuatan yang dulu mereka lakukan. Sebuah penutup yang memberikan penegasan tentang keadilan yang sempurna.
Artikel Terkait
Pemprov Sulsel Gerak Cepat Tangani Kasus Santri Diduga Dipaksa Pakai Vape Berbahaya di Pangkep
Peringatan 400 Tahun Syekh Yusuf Masuk Agenda UNESCO, Wacana Film Layar Lebar Mengemuka
KAI Tutup 1.800 Perlintasan Liar yang Dinilai Picu Kecelakaan Kereta Api
Hujan Ringan hingga Sedang Diprediksi Guyur Sebagian Besar Wilayah Sulsel Sepanjang Hari