Ekonomi Baik-Baik Saja? Rakyat Bahagia?
Baru-baru ini, seorang pejabat tinggi dengan bangga menyebut kesuksesan penjualan tiket konser Pandji 'Mens Rea' sebagai bukti keberhasilan pemerintahan. Menurutnya, ini adalah indikator yang jelas. Tapi benarkah begitu? Mari kita lihat lebih dalam.
Konser itu sendiri dihadiri sekitar 10.000 orang. Tiket termurah dipatok Rp 550 ribu, dan yang termahal bisa mencapai Rp 1,7 juta. Memang, antusiasme terlihat. Namun, apakah sepuluh ribu orang yang mampu membeli tiket semahal itu bisa mewakili kondisi 287 juta lebih penduduk Indonesia? Apakah ini gambaran bahwa perekonomian kita benar-benar sehat?
Jawabannya, tentu saja tidak.
Faktanya, laporan World Bank untuk tahun 2025 cukup menohok. Mereka menyebut sekitar 60,3% penduduk Indonesia, atau setara dengan 171,9 juta orang, hidup di bawah garis kemiskinan internasional. Garis itu ditetapkan sebesar USD 6,85 per orang per hari. Dengan angka itu, Indonesia menduduki peringkat kedua dunia untuk jumlah penduduk miskin terbanyak. Sungguh ironis.
Di sisi lain, data dari Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menguatkan gambaran suram ini. Dari total lebih dari 554 juta rekening bank, hampir 99% nilainya di bawah Rp 100 juta. Angka ini termasuk rekening perusahaan, lho. Artinya, hanya sekitar 1,2% rekening atau sekitar 6 juta yang saldonya melampaui angka tersebut.
Kalau kita berasumsi satu rekening mewakili satu keluarga dengan empat anggota, maka penduduk yang bisa dibilang kelas menengah ke atas mungkin hanya sekitar 24 juta orang. Itu baru 9% dari total populasi. Dan itu pun masih asumsi yang longgar. Kenyataannya, banyak orang kaya punya lebih dari satu rekening. Jadi, jumlah penduduk yang benar-benar 'berada' bisa jauh lebih sedikit dari 24 juta.
Membandingkannya dengan negara lain bikin kita merenung. Vietnam, misalnya, yang menganut paham komunis, punya 26% penduduknya masuk kelas menengah. Bagaimana dengan Indonesia dengan 'Ekonomi Pancasila'-nya? Ternyata kalah.
Kalau kita lihat kelompok paling atas, ketimpangannya makin jelas. Laporan "The Wealth Report 2025" dari Knight Frank mencatat jumlah orang super kaya (aset di atas USD 10 juta) di beberapa negara:
- Amerika Serikat: 905.413 orang dari 348 juta penduduk.
- Tiongkok: 471.634 orang dari 1,4 miliar penduduk.
- Singapura: 9.674 orang dari 5,9 juta penduduk.
- Vietnam: 5.459 orang dari 102 juta penduduk.
- Indonesia: 8.120 orang dari 287 juta penduduk.
Angka-angkanya berbicara. Di AS, orang super kaya mencakup 2,6% populasi. Singapura 1,64%. Bahkan Vietnam punya 0,05%. Sementara Indonesia? Hanya 0,02%. Ketimpangannya sangat parah.
Lalu, masih pantaskah kita membanggakan gelar "penduduk terbahagia di dunia" dari sebuah studi global? Memang uang bukan segalanya untuk bahagia. Tapi coba tanya pada ibu-ibu yang antre minyak goreng, atau bapak-bapak yang kewajan bayar listrik. Untuk memenuhi kebutuhan dasar sekalipun, uang tetap diperlukan. Kuota internet, biaya sekolah, transportasi semua butuh duit.
Kemewahan dan gemerlap ibu kota bukanlah cerminan seluruh negeri. Kemakmuran segelintir orang tak boleh membuat kita lengah. Jadi, sebelum berkesimpulan bahwa segala sesuatu berjalan baik-baik saja, ada baiknya kita berpikir ulang. Dan berpikir yang cerdas.
Well… think again, and think smart.
(Arsyad Syahrial)
Artikel Terkait
Remaja 16 Tahun Gantikan Almarhumah Ibu Berangkat Haji dari Makassar
Cemburu Buta Berujung Pembunuhan, Pelaku dan Komplotan Ditangkap di Jombang
TNI dan Warga Nduga Gotong Royong Evakuasi Jenazah di Landasan Udara Terpencil
Kuasa Hukum Ungkap Hubungan Inara Rusli dan Insanul Fahmi Kini Merenggang