Depok – Sabtu lalu, tepatnya 17 Januari 2026, suasana di Depok, Jawa Barat, cukup ramai. Sekitar 200 orang berkumpul untuk satu tujuan: menyaksikan peluncuran buku terbaru cendekiawan muslim ternama asal Malaysia, Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud. Buku itu berjudul "Pohon Kebaikan Peradaban Fadilah".
Edisi Indonesia dari kumpulan puisi tentang semangat peradaban Islam ini diterbitkan oleh At-Taqwa College, Depok. Sebelumnya, buku ini lebih dulu terbit di Malaysia lewat Akademi Jawi Malaysia dan KasehDia Ventures Publishing.
Acara itu sendiri tidak hanya diisi oleh sang penulis. Hadir juga sejumlah nama besar. Ada Khalif Muamar, Associate Professor of Islamic Thought dari Universitas Teknologi Malaysia (UTM). Juga novelis kondang Habiburrahman El-Shirazy, yang juga Ketua Lembaga Seni Budaya dan Peradaban Islam (LSBPI) MUI. Mereka semua hadir untuk membedah karya terbaru Wan Daud. Dr. Adian Husaini, Ketua Umum DDII sekaligus Direktur At-Taqwa College, bertindak sebagai moderator yang memandu acara.
Dalam kesempatan itu, Wan Daud bercerita. "Pohon Kebaikan Peradaban Fadilah" ini adalah buku puisinya yang keempat.
Sebelumnya, sudah ada "Mutiara Taman Adabi" (2003), "Dalam Terang" (2004), dan "Jalan Pulang" (2020).
"Pohon kebaikan merupakan hasil puisi saya yang terpanjang sejauh ini," ungkap Prof. Wan dalam pengantar bukunya. "Dan yang paling luas liputannya tentang semangat agama dan peradaban Islam."
Ia menambahkan, struktur buku ini mirip dengan tiga karyanya terdahulu. Sebuah puisi panjang yang terdiri dari berbagai bab yang saling berhubungan dan memperkuat. Ada bab pengantar di awal dan penutup di akhir.
Menariknya, Wan Daud mengakui dengan jujur. Karya-karyanya, yang ditulis sejak awal 1990-an, termasuk "Pohon Kebaikan" ini, adalah hasil olah jiwa dan pikirannya. Semua itu tak lepas dari pengaruh gagasan dan perjuangan intelektual gurunya, Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas.
Bahkan, dua bab dalam buku ini "Lampu Muhammad ke 'Alam Melayu" dan "Sahib Marbat" merupakan ringkasan dari pembelajarannya mendalam terhadap buku penting al-Attas, "Historical Fact and Fiction" (2001).
"Oleh karena itu, seperti dalam karya-karya saya yang lain, sudah sepatutnya saya menyampaikan rasa terima kasih saya yang terdalam kepada Yang Terhormat Profesor Kerajaan Syed Muhammad Naquib al-Attas," ungkapnya. Ia juga memohon doa terbaik sang guru untuk semua kontribusinya yang berharga bagi umat Islam.
Membangkitkan Singa yang Tertidur
Pembicaraan kemudian mengalir ke tanggapan para pembedah. Khalif Muamar, salah satu murid kepercayaan al-Attas, punya harapan besar. Ia berharap buku puisi Wan Daud ini bisa "membangunkan" umat Islam Indonesia.
Alasannya? Wan Daud sendiri pernah menyebut Muslim Indonesia bagai singa yang tertidur. "Maka puisi-puisi ini bisa membangkitkan singa itu," kata Muamar.
Menurutnya, buku keempat Wan Daud ini mengajak pembaca menyelami inti peradaban Islam. Merasakan ruh, jiwa, dan spirit para tokoh pembentuknya sejak zaman Rasulullah. Juga memahami tantangan yang mereka hadapi dan sifat-sifat mulia yang mereka miliki: kesetiaan, kejujuran, ketabahan.
"Prof. Wan seolah bercerita tentang sejarah Islam," ujar mantan Direktur RZS CASIS-UTM itu. "Jadi buku ini juga buku sejarah. Bukan cuma catatan nama dan peristiwa, tapi juga nilai-nilai dan prinsip universal yang kekal. Prinsip yang harus dimiliki pemuda muslim di mana pun dan kapan pun."
Muamar punya pandangan menarik soal generasi. Ia tak setuju dengan istilah "kesenjangan generasi" yang kerap digaungkan. Meski zaman berubah dengan tantangan yang makin hebat, menurutnya bekal yang dibutuhkan tetap sama: ilmu dan ruh yang telah ditiupkan Rasulullah sejak awal.
"Itulah yang ingin disampaikan Prof Wan," jelasnya.
Sufi yang "Muharrik"
Dari sudut pandang berbeda, Habiburrahman El Shirazy yang akrab disapa Kang Abik mengaku agak terkejut. Ia baru tahu kalau pemikir sekaliber Wan Daud ternyata juga penyair.
"Selama ini saya keasyikan nulis novel, padahal awalnya nulis puisi," kelakar penulis "Ayat-Ayat Cinta" itu. Membaca karya Wan Daud justru membangkitkan lagi semangatnya untuk menulis puisi.
Kang Abik mengaku tidak berani mengritik karya tersebut. Menurut timbangannya, secara estetika, kualitas "Pohon Kebaikan" tidak jauh berbeda dengan puisi-puisi Wan Daud sebelumnya.
Ia lalu meminjam penilaian Prof. Naquib Al Attas: "Pada hemat saya ciri-ciri puisi keislaman… memang nyata terdapat dalam puisi Profesor Wan Mohd Nor Wan Daud. Dan meskipun bentuk dan gaya bahasa dan penyampaiannya masih boleh diperbaiki dan diperhalusi."
Menurut Kang Abik, setidaknya ada empat kelebihan buku ini. Pertama, kontennya kaya tema dan padat ide. Kedua, ia bisa dikategorikan sebagai puisi pemikiran lebih dominan sebagai wadah gagasan daripada sekadar renungan.
Ketiga, jika digabung dengan karya puisi Wan Daud sebelumnya, kumpulan ini bisa dibilang yang paling komprehensif mengulas peradaban Islam di Tanah Melayu saat ini. Keempat, karyanya punya warna unik: menggabungkan unsur tasawuf dengan semangat "harakah" (gerakan).
"Beliau ini sufi yang "muharrik"," ungkap Kang Abik, yang baru saja meraih gelar doktor dengan predikat Magna Cum Laude. "Karyanya ada unsur sufi, tetapi juga kuat gerakannya."
Sekilas tentang Sang Profesor
Siapa sebenarnya Wan Mohd Nor Wan Daud? Ia adalah cendekiawan Muslim kontemporer yang cukup disegani. Pria kelahiran Tanah Merah, Kelantan, 23 Desember 1955 ini pernah memegang kursi pemikiran Syed Muhammad Naquib al-Attas di RZS-CASIS, UTM.
Kini, selain sebagai penasihat akademik untuk Akademi Jawi Malaysia, ia juga terlibat dalam berbagai lembaga pendidikan dan think tank, termasuk di Singapura dan Turki.
Jejak pendidikannya dimulai dari Northern Illinois University, Amerika Serikat, tempat ia meraih gelar sarjana Biologi dan magister Pendidikan. Gelar doktor (Ph.D) ia dapatkan dari University of Chicago pada 1988, dengan bimbingan Prof. Fazlur Rahman.
Uniknya, semasa di AS, ia aktif di organisasi mahasiswa Muslim. Bahkan, ia pernah menjadi Presiden Nasional Asosiasi Mahasiswa Muslim Amerika Serikat dan Kanada satu-satunya orang Asia Tenggara yang mencapai posisi itu.
Karier akademiknya berjalan panjang. Ia pernah menjadi dosen di Universitas Nasional Malaysia, lalu membantu Prof. al-Attas mengelola ISTAC. Pada 2011, ia mendirikan dan menjadi direktur pertama CASIS UTM. Hingga kini, ia telah menulis dan mengedit lebih dari 15 buku serta puluhan artikel akademik, yang banyak diterjemahkan ke berbagai bahasa.
Di balik kesibukannya sebagai pemikir, ternyata ada jiwa penyair. Sebelum "Pohon Kebaikan", sudah tiga buku puisi yang ia lahirkan. Puisi-puisinya bukan sekadar karya sastra biasa. Di dalamnya ada refleksi mendalam tentang agama, filsafat, dan sejarah. Sebuah perpaduan langka antara ketajaman akal dan kelembutan rasa.
Disarikan dari berbagai sumber.
Artikel Terkait
Presiden Prabowo Sidak Gudang Bulog Magelang, Pastikan Stok Beras Aman
INFID Kritik Garis Kemiskinan BPS dan Anggaran MBG yang Dinilai Tidak Berkelanjutan
Mantan Aktivis Kritik Dominasi Broker Politik dalam Praktik Money Politics
Profesor Hedar Soroti Tantangan Hukum Atasi Dampak Negatif Algoritma