Inikah Kemiskinan Diksi, atau Cuma Tren Semata?
Ada kekhawatiran yang mengemuka. Jangan-jangan, kebiasaan ini mencerminkan kemiskinan diksi yang memprihatinkan. Saat tak bisa mengekspresikan kekaguman, ujung-ujungnya jadi, "Anjir, keren banget!". Saat kecewa, "Anjir, parah sih!".
Kata "anjir" seolah jadi pisau serbaguna yang menggantikan kekayaan kosakata kita. Padahal, sebagai mahasiswa calon intelektual bangsa kemampuan meracik kata dan rasa seharusnya jadi senjata andalan. Bukan malah menyerah pada satu kata umpatan untuk segala situasi.
Lalu, bagaimana kita menyikapinya? Melarang mentah-mentah jelas bukan solusi.
Mencari Kembali Etika yang Tergerus
Bahasa itu hidup, ia akan selalu dinamis mengikuti zamannya. Tapi, normalisasi bahasa kotor yang tak terkendali punya efek samping. Perlahan-lahan, ia bisa mengikis rasa hormat dan etika dasar dalam berkomunikasi.
Menjadi asyik dan gaul tidak harus dibayar dengan kesantunan. Perlu diingat, kampus bukan cuma pabrik pencetak IPK. Ia juga tempat untuk membentuk karakter. Bayangkan, jika dari mulut kaum terpelajar saja bahasa sudah kehilangan filter-nya, lalu apa yang bisa kita harapkan untuk wajah komunikasi bangsa ke depannya?
Mungkin, sudah waktunya kita berevaluasi. Berhenti menjadikan makian sebagai bumbu wajib setiap obrolan. Sebab, keakraban sejati sebenarnya tak diukur dari seberapa kasar kita memanggil teman. Tapi dari seberapa dalam dan berkualitas percakapan yang kita bangun bersama.
Artikel Terkait
Warga Kanada Tewas dalam Kerusuhan Iran, Ottawa Kecam dan Imbau Warganya Segera Tinggalkan Negeri
Kemenangan Publik: Ijazah Jokowi Tak Lagi Jadi Dokumen Rahasia
Menteri Kesehatan: Stigma, Tantangan Terbesar Pengentasan Kusta di Indonesia
Pemulihan Pascabanjir Sumut Butuh Rp69,47 Triliun, Empat Kali Lipat Kerugian