Anjir Jadi Bumbu Wajib: Ketika Makian Kehilangan Taring di Mulut Kaum Muda

- Jumat, 16 Januari 2026 | 03:06 WIB
Anjir Jadi Bumbu Wajib: Ketika Makian Kehilangan Taring di Mulut Kaum Muda

Duduk di sebuah kedai kopi yang ramai beberapa waktu lalu, saya menyadari sesuatu. Suasana penuh dengan mahasiswa yang sibuk dengan laptop dan obrolan mereka. Di meja sebelah, sekelompok anak muda terlibat diskusi yang cukup seru, mungkin tentang tugas kuliah. Tapi yang menarik perhatian justru bukan topiknya, melainkan bumbu dalam setiap kalimat mereka. Hampir di setiap jeda, terdengar kata "anjir", "anjing", atau istilah-istilah lain yang dulu dianggap kasar. Mereka mengucapkannya dengan santai, wajah datar, bahkan diselingi tawa. Rasanya, kata-kata itu sudah kehilangan fungsinya sebagai makian. Sejak kapan, ya, umpatan berubah jadi sekadar tanda koma dalam percakapan sehari-hari?

Dulu dan Sekarang: Makian yang Berubah Wajah

Dulu, kata-kata kasar ibarat peluru. Anda melepaskannya hanya saat emosi memuncak, dalam kemarahan yang sulit dikendalikan. Mengucapkannya di ruang publik adalah tabu besar, apalagi di lingkungan kampus yang dianggap steril. Itu bisa jadi "bunuh diri" sosial.

Namun begitu, realitanya sekarang berbeda sekali. Lihatlah bagaimana kata "anjir" atau "bangsat" dipakai. Bagi banyak anak muda sekarang, kata-kata itu nyaris tak punya taring lagi. Maknanya telah bergeser, mengalami normalisasi yang masif. Fungsinya berubah jadi pengisi jeda atau yang lebih menarik penanda keakraban. Ironisnya, semakin kasar panggilannya, seolah semakin dekat pula hubungan pertemanan mereka. Sebuah kode solidaritas yang aneh, bukan?

Di sisi lain, kita tak bisa mengabaikan peran media sosial dalam semua ini.

Batas yang Kabur: Pengaruh Dunia Digital

Konten kreator dan influencer papan atas kerap memakai bahasa "blak-blakan" tanpa sensor. Tujuannya jelas: agar terlihat otentik dan dekat dengan anak muda. Nah, mahasiswa sebagai penikmat utama konten semacam itu, tanpa sadar menyerap gaya komunikasi ini. Lalu membawanya ke kehidupan nyata.

Masalahnya, batas antara ruang privat dan publik jadi makin tipis. Apa yang dianggap "biasa" saat nongkrong, tanpa pikir panjang terbawa ke ruang yang lebih formal. Akhirnya, kita kesulitan membedakan. Mana bahasa untuk bercanda dengan teman satu kost, dan mana yang pantas dipakai saat diskusi kelas atau berinteraksi dengan dosen. Filter bahasanya seperti menguap begitu saja.


Halaman:

Komentar