Prabowo Panggil Rektor dan Guru Besar ke Istana, Ada Apa?
Istana Kepresidenan Jakarta ramai oleh para akademisi. Ratusan rektor dan guru besar dari PTN dan PTS memenuhi undangan Presiden Prabowo Subianto dalam sebuah pertemuan yang digelar Kamis lalu. Bukan sekadar acara seremonial biasa, pertemuan ini dinilai banyak pihak sebagai sinyal kuat. Tampaknya, pemerintah benar-benar serius menjadikan pendidikan tinggi sebagai fondasi utama untuk menjawab tantangan zaman.
Menurut pengamat intelijen dan geopolitik Amir Hamzah, acara ini punya bobot strategis yang dalam. “Ini menunjukkan komitmen Presiden Prabowo terhadap pendidikan,” ujarnya.
“Kampus tidak hanya diposisikan sebagai menara gading, tetapi sebagai mitra strategis negara dalam membaca situasi global dan menyiapkan masa depan bangsa,” tambah Amir saat berbincang dengan wartawan.
Pertemuan itu sendiri berlangsung cukup intens. Dari pantauan, Prabowo tak cuma bicara soal kurikulum atau anggaran. Ia secara khusus menyinggung kondisi geopolitik dunia yang dinilainya kian rumit dan penuh ketidakpastian. Beberapa kawasan panas seperti Timur Tengah, Venezuela di Amerika Latin, hingga dinamika di Afrika turut menjadi bahan diskusi.
“Presiden membahas situasi global seperti Iran, Venezuela, hingga isu Somaliland yang berdampak pada Somalia,” kata Amir.
Menurutnya, hal ini menunjukkan pemahaman bahwa konflik di belahan dunia lain punya implikasi nyata bagi Indonesia, mulai dari ekonomi, keamanan, sampai tentunya arah pendidikan nasional.
Di sisi lain, ada poin krusial lain yang ditekankan Prabowo: pentingnya Indonesia mengejar ketertinggalan di bidang STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics). Bidang ini dianggap sebagai tulang punggung kemajuan di tengah persaingan global yang makin sengit. Amir Hamzah sepakat. Ia menilai penguasaan sains dan teknologi adalah penentu masa depan, menyentuh segala sektor dari industri, pertahanan, hingga pangan.
Sayangnya, kata dia, kita masih tertinggal jauh dalam hal riset dan inovasi. Keterlibatan perguruan tinggi, karena itu, mutlak diperlukan untuk membuat lompatan besar.
Dari kacamata intelijen strategis, Amir punya pandangan menarik. Ia melihat peran kampus kini meluas, tidak sekadar mencetak sarjana. Pendidikan tinggi adalah benteng pertama dalam menjaga ketahanan nasional menghadapi perang modern yang bentuknya bukan lagi tembak-menembak.
“Di era modern, perang tidak selalu berbentuk senjata. Ada perang teknologi, perang narasi, dan perang sumber daya manusia. Kampus adalah benteng pertama dalam menghadapi ancaman-ancaman tersebut,” tegasnya.
Maka, langkah Prabowo mengumpulkan para elite intelektual ini dinilai sebagai upaya membangun kesadaran kolektif. Sebuah cara untuk menyelaraskan visi antara pengambil kebijakan dan pusat-pusat pemikiran bangsa.
Pertemuan ini diharapkan bukan yang terakhir. Ia harus menjadi awal dari sinergi berkelanjutan. Impiannya besar: Indonesia yang berdaulat secara ilmu pengetahuan dan mandiri secara teknologi, sehingga bisa jadi pemain utama, bukan sekadar penonton atau pasar, di panggung dunia.
“Jika kampus, negara, dan kebijakan berjalan seiring, maka Indonesia tidak hanya menjadi pasar global, tetapi menjadi pemain utama di panggung dunia,” pungkas Amir Hamzah menutup pembicaraan.
Artikel Terkait
Ibu Laporkan Perawat RSHS Bandung atas Dugaan Percobaan Penculikan Bayi
Kejati Sulsel Periksa Mantan Pimpinan DPRD Terkait Korupsi Bibit Nanas Rp60 Miliar
Pria di Bandung Barat Tewas Ditikam Teman Sekontrakan Usai Dituduh Mencuri
Nelayan Temukan Sabu Lebih dari Satu Kilogram di Pantai Pangkep