Khamenei vs Trump: Siapa yang Lebih Rentan Terguling dari Takhta Kekuasaan?

- Kamis, 15 Januari 2026 | 05:40 WIB
Khamenei vs Trump: Siapa yang Lebih Rentan Terguling dari Takhta Kekuasaan?

Donald Trump dan Ali Khamenei:
Siapa yang Akan Lebih Dulu Jatuh?

✍🏻Moeflich H. Hart

Dua sosok ini, Ali Khamenei dan Donald Trump, bermain di lapangan politik yang sama sekali berbeda. Aturan mainnya pun tak ada yang mirip. Lalu, kalau kita bicara real politik, siapa di antara kedua penguasa dari negara besar ini yang lebih mungkin terlempar lebih dulu?

Khamenei berdiri tegak di puncak sebuah rezim teokrasi-sekuriti. Dia bukan presiden biasa. Lebih dari itu, dia adalah porosnya segalanya: ideologi, militer, sampai urusan agama. Oposisi? Tentu ada. Protes kerap menyala. Ekonomi Iran juga memang terengah-engah dihimpit sanksi. Semua itu fakta.

Tapi sistem di sana dirancang khusus untuk menahan guncangan. Ada Garda Revolusi, jaringan ulama yang kokoh, dan kontrol institusional yang ketat. Alhasil, “jatuh”-nya seorang Khamenei kemungkinan besar hanya akan terjadi karena faktor biologis atau melalui proses suksesi yang sudah diatur, bukan lewat pemilu atau impeachment. Rezim ini mungkin tak populer, tapi daya tahannya luar biasa. Mereka sudah ahli bertahan di bawah tekanan yang tak kunjung reda.

Donald Trump? Ceritanya lain sama sekali. Dia hidup dalam demokrasi Amerika yang riuh rendah, di mana setiap empat tahun pintu risiko terbuka lebar. Kekuatannya tidak terletak pada institusi negara, melainkan pada basis massa fanatik dan kemahirannya menguasai panggung media. Dia bisa kalah, menang, bangkit lagi, atau terjungkal semuanya berjalan dalam koridor hukum yang penuh keributan. Masalah hukum yang dihadapinya nyata. Polarisasi sudah mencapai titik ekstrem. Legitimasinya sebagai politisi pun selalu jadi bahan perdebatan sengit.

“Jatuh” bagi Trump sangat mungkin terjadi. Hanya saja, sifatnya cenderung reversibel. Bisa jatuh hari ini, lalu bangkit dan comeback besok. Politik Amerika itu seperti treadmill: melelahkan, tapi jarang yang benar-benar mematikan.

Jadi, siapa yang lebih dekat dengan jurang?

Kalau “jatuh” diartikan sebagai kehilangan kekuasaan secara tiba-tiba dan formal, maka Trump-lah yang lebih dekat. Sistem di negaranya memang memungkinkan hal itu. Sebaliknya, jika “jatuh” berarti runtuhnya sebuah rezim secara keseluruhan, Khamenei masih jauh dari sana. Sistemnya secara efektif mencegah keruntuhan semacam itu.

Di sinilah ironinya: Trump rapuh secara institusional, tapi kuat secara kultural. Sementara Khamenei kuat secara institusional, justru rapuh secara kultural.

Dunia sekarang ini bukan lagi soal siapa yang paling benar. Tapi lebih pada, sistem siapa yang paling tahan terhadap kesalahan. Iran unggul dalam ketahanan model otoriter. Amerika menang dalam mekanisme koreksi demokratis yang kadang, bagi pengamat luar, tampak seperti kekacauan belaka.

Kesimpulan singkatnya begini: Trump lebih mudah jatuh, tapi juga lebih mudah bangkit kembali. Khamenei jauh lebih sulit untuk dijatuhkan, namun sekali itu terjadi, bisa jadi tamatlah riwayatnya. Sejarah, rupanya, memang menyukai paradoks semacam ini.

Peran Rakyat: Gelombang Penentu Nasib?

Selanjutnya, mari kita tilik peran rakyat. Dukungan atau penolakan publik bukan cuma angka di survei. Itu adalah gelombang sosial yang bisa mendorong momentum, mempercepat keruntuhan kekuasaan atau setidaknya melemahkannya secara drastis.

Di Iran, gelombang itu sedang terjadi. Awal 2026 ini, protes nasional berskala luas menyapu banyak kota. Pemicu awalnya adalah gejolak ekonomi, inflasi, dan nilai rial yang terjun bebas. Namun, aksi ini dengan cepat berkembang. Dari sekadar tuntutan ekonomi, berubah menjadi seruan politik yang lebih tajam, mengarah langsung ke sistem teokrasi pimpinan Ayatollah Ali Khamenei. Yang menarik, bahkan slogan-slogan yang menginginkan kembalinya monarki terdengar di jalanan. Ini sinyal kuat bahwa ketidakpuasan telah menjalar ke spektrum masyarakat yang luas, bukan cuma kelompok kecil.

Responnya keras. Kekerasan terjadi, dikabarkan ribuan korban tewas, ditambah penangkapan massal oleh aparat. Langkah ekstrem seperti persiapan hukuman mati untuk demonstran pun disebut-sebut. Semua ini menggambarkan betapa besarnya tekanan dari bawah dan betapa getolnya rezim berusaha menahannya.

Meski begitu, satu hal harus dicatat: struktur kekuasaan Iran tidak sepenuhnya bergantung pada dukungan rakyat biasa. Selama beberapa dekade, rezim telah membangun institusi kontrol militer, keamanan, birokrasi agama yang dirancang khusus untuk meredam gejolak. Inilah yang membuat sistem mereka lebih tahan banting.

Lalu bagaimana dengan Amerika Serikat? Gelombang demonstrasi menuntut Trump “jatuh” juga nyata, sebagai cerminan polarisasi dalam negeri yang sangat tajam. Bedanya, politik AS menyediakan kanal legal yang luas untuk menyalurkan protes. Mulai dari litigasi di pengadilan, proses impeachment, sampai pemilihan umum berkala. Orang boleh saja berteriak minta Trump mundur atau dipenjara, namun tekanan itu pada akhirnya mengalir melalui jalur-jalur formal tadi. Artinya, rakyat punya peran langsung dalam mekanisme pergantian kekuasaan, meski prosesnya sering berantakan dan makan waktu lama.

Di sinilah kontrasnya menjadi jelas. Protes di Iran menandai keretakan legitimasi yang serius, namun belum tentu langsung menjatuhkan pemimpin dalam waktu dekat, berkat struktur kekuasaan yang terpusat dan aparat yang represif. Sementara di AS, protes terhadap Trump adalah ekspresi populer yang kuat, namun rakyat di sana punya alat resmi untuk mengganti pemimpin melalui pemilu dan hukum. Jadi, “kejatuhan” Trump lebih mungkin datang melalui proses sistemik yang teratur, bukan semata karena kerusuhan di jalan.

Secara garis besar, rakyat Iran memang menunjukkan ketidakpuasan yang mendalam, yang mulai menggerogoti legitimasi rezim. Tapi rezimnya masih punya cadangan struktur yang dalam untuk menekan dan mengelola krisis, tanpa harus kehilangan kendali secara instan.

Di pihak lain, rakyat AS punya pengaruh yang lebih langsung melalui mekanisme demokrasi. Jika protes benar-benar mewakili suara mayoritas yang kuat, Trump bisa saja kehilangan kekuasaannya lewat pemilu atau keputusan hukum sebuah proses yang terstruktur, walau memakan waktu.

Khusus soal ideologi Syiah, memang ia menjadi perekat kuat bagi basis loyalis rezim. Tapi gelombang protes sekarang ini tidak hanya soal agama. Ia sudah dibumbui oleh ketidakpuasan ekonomi dan sosial yang melintasi sekat-sekat sekte. Artinya, dukungan ideologis saja tak cukup menjamin stabilitas, jika banyak orang merasa sistem itu gagal memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari.

Pada intinya, rakyat bisa mempercepat kejatuhan sebuah rezim yang sudah kehilangan legitimasi, seperti di Iran. Namun, struktur ideologis yang kuat tak otomatis menjadi penjamin kelanggengan. Sebaliknya, di AS, rakyat punya alat sistemik untuk mengganti pemimpin prosesnya mungkin lambat, tapi jelas jalannya, tanpa harus mengandalkan kekerasan jalanan.

Jadi apa hasil akhirnya? Tekanan di Iran terasa lebih akut dan mendalam. Namun, kemungkinan terjadinya perubahan politik secara cepat justru lebih terlihat di Amerika, berkat mekanisme demokrasi yang eksplisit."

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar