Menurut laporan The Wall Street Journal, Amerika Serikat bakal mengumumkan langkah berikutnya untuk Gaza pada Rabu (14/1/2026) mendatang. Intinya, bakal dibentuk sebuah badan sementara yang dipimpin orang Palestina untuk mengelola wilayah itu. Ini jadi bagian dari rencana besar AS yang sudah disiapkan.
Para pejabat AS bilang ke media itu, pemerintahan Trump merasa kondisi di lapangan sudah memungkinkan untuk beralih dari sekadar mengelola konflik ke tahap tata kelola dan rekonstruksi. Pertimbangan ini muncul setelah gencatan senjata yang masih rapuh berjalan, dan hampir semua tawanan Israel sudah kembali. Hanya satu yang belum: seorang tawanan Israel yang dilaporkan meninggal dan jenazahnya belum ditemukan. Nah, peralihan ini disebut-sebut sebagai Fase Dua dari cetak biru Gaza yang terdiri dari 20 poin.
Nanti, Gaza Dikelola 15 Teknokrat Palestina
Rencananya, sebuah komite baru bernama Komite Nasional untuk Administrasi Gaza (NCAG) akan dibentuk. Tugasnya mengurusi pemerintahan sehari-hari di wilayah yang porak-poranda itu. Komite ini rencananya beranggotakan 15 teknokrat Palestina. Mereka akan mengelola hal-hal penting seperti sanitasi, listrik, air, dan pendidikan.
Untuk mengawasi jalannya rencana ini, Nickolay Mladenov ditunjuk sebagai perwakilan tinggi. Dia bukan nama baru; pernah jadi utusan PBB untuk Timur Tengah dan juga mantan menteri luar negeri Bulgaria. Perannya nanti jadi penghubung utama antara komite Palestina tadi dengan Dewan Perdamaian yang dipimpin AS. Dewan itu sendiri diketuai langsung oleh Presiden Donald Trump.
Soal Dewan Perdamaian, Trump bilang akan berisi "para pemimpin terpenting dari negara-negara terpenting." Anggotanya sekitar selusin orang, dan mereka yang akan memberi arahan strategis soal masa depan Gaza. Tapi sampai sekarang, siapa saja yang masuk daftar itu masih belum jelas betul.
Tapi Kawasan Masih Skeptis
Meski pengumuman resminya tinggal menunggu hari, rencana ini menghadapi banyak keraguan dari para pejabat di kawasan. Salah satu titik kritisnya adalah soal masa depan Hamas. Kelompok yang ditetapkan AS sebagai teroris itu belum juga memberi kejelasan: kapan dan bagaimana mereka akan meletakkan senjata, sesuai kesepakatan gencatan senjata yang dibikin Trump Oktober lalu.
Para pejabat AS sendiri mengakui, keberhasilan fase ini sangat bergantung pada satu hal: apakah Hamas benar-benar mau melucuti senjata dan melepas kendali atas Gaza. Dan itu masih jadi tanda tanya besar.
Kekhawatiran serupa diungkapkan Dan Shapiro, mantan duta besar AS untuk Israel. Menurutnya, Hamas telah menunjukkan ketangguhan di luar perkiraan banyak pihak.
Artikel Terkait
Kuasa Hukum Roy Suryo Sebut Manuver Eggi Sudjana Justru Perkuat Soliditas Tim
Jembatan Sarinah Dibongkar Pasang, Nanti Integrasi Langsung dengan Halte TransJakarta
Nenek 80 Tahun Diperiksa 4 Jam, Ungkap Kejanggalan Peralihan Tanah dalam Hitungan Hari
Nilai Matematika 36,10: Alarm Keras bagi Pondasi Nalar Pendidikan Indonesia