AS Bentuk Komite Teknokrat Palestina untuk Kelola Gaza, Hamas Masih Jadi Tanda Tanya

- Rabu, 14 Januari 2026 | 17:00 WIB
AS Bentuk Komite Teknokrat Palestina untuk Kelola Gaza, Hamas Masih Jadi Tanda Tanya

"Kelompok itu bisa saja muncul dalam keadaan melemah, tapi tetap memegang kendali. Kalau itu terjadi, ya itu artinya kita mulai menghitung mundur menuju babak konflik berikutnya," ujar Shapiro.

Soal Pasukan Internasional, Masih Gelap

Ada lagi persoalan yang belum terjawab: siapa yang akan jadi bagian dari Pasukan Stabilisasi Internasional (ISF) untuk Gaza? Pemerintah AS belum menyebutkan negara mana saja yang bersedia ikut. Detail seperti besar pasukan pun katanya akan diumumkan belakangan.

Sejauh ini, Indonesia dan Maroko sudah menyatakan komitmen untuk mengirim pasukan. Tapi banyak calon kontributor lain yang bersikap hati-hati. Mereka tak mau pasukannya ditugaskan untuk melucuti senjata Hamas secara paksa. Hal inilah yang disebut-sebut memperlambat proses pembentukan pasukan internasional tersebut.

Di Tengah Posisi yang Berbeda

Di sisi lain, Israel bersikukuh dengan syaratnya. Mereka bilang rencana ini tidak bisa melangkah lebih jauh sebelum jenazah Ran Gvili seorang petugas polisi Israel yang tewas dalam serangan 7 Oktober 2023 dikembalikan.

Perdana Menteri Benjamin Netanyahu juga punya pendapat lain. Dia tetap berargumen bahwa Gaza harus diperintah oleh pasukan internasional, bukan oleh Otoritas Palestina. Pemerintahnya jelas menentang pembentukan negara Palestina maupun pengambilalihan kontrol oleh Otoritas Palestina.

Sementara itu, Hamas pada hari Minggu menyatakan akan membubarkan pemerintahan Gaza yang ada sekarang setelah komite teknokrat Palestina terbentuk. Tapi, apakah ini berarti mereka benar-benar menyerahkan kekuasaan sepenuhnya? Itu masih jadi pertanyaan.

Lantas, apa tujuan akhir dari semua rencana ini? Menurut pejabat AS yang berbicara ke Wall Street Journal, mereka ingin mengubah Gaza dari puing-puing perang menjadi wilayah yang stabil. Lalu, pada akhirnya, menjadikannya pusat ekonomi regional. Visi jangka panjang ini digagas oleh Steve Witkoff, utusan Timur Tengah Trump, dan menantu presiden, Jared Kushner.

Namun begitu, para analis mengingatkan. Tanpa perlucutan senjata Hamas yang tuntas dan komitmen internasional yang sungguh-sungguh, perdamaian abadi dan pemerintahan yang efektif di Gaza masih jauh dari jaminan. Jalan ke sana masih panjang dan berliku.


Halaman:

Komentar