Bagi umat Islam, bulan Rajab punya keistimewaan tersendiri. Salah satunya karena di bulan inilah tepatnya tanggal 27 Rajab kita memperingati peristiwa agung Isra Mikraj Nabi Muhammad Saw. Memang, soal penetapan tanggalnya sendiri sebenarnya masih jadi perdebatan. Tapi, pendapat yang menyebut tanggal 27 Rajab ini memang yang paling masyhur di kalangan masyarakat. Ya, wajar saja jika dalam sejarah ada perbedaan pendapat. Itu hal yang lumrah.
Mengurai Isra Mikraj dari Kacamata Teologi
Secara singkat, Isra adalah perjalanan Nabi dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa. Sementara Mikraj adalah perjalanan lanjutannya, dari Masjidil Aqsa naik hingga ke Sidratulmuntaha. Mayoritas ulama sepakat: kedua peristiwa ini terjadi dalam satu malam yang sama. Dan yang penting, ini dialami Nabi dengan ruh dan jasadnya, bukan cuma mimpi belaka.
Karena peristiwa Isra disebut secara gamblang dalam Al-Qur’an Surah Al-Isrā’ ayat 1, seluruh umat Islam sepakat akan kebenarannya. Keyakinan terhadapnya bahkan jadi bagian dari iman. Sampai-sampai, siapa yang mengingkarinya bisa dianggap keluar dari iman.
Lain halnya dengan Mikraj. Soal yang satu ini, para ulama agak longgar. Mereka berpendapat, orang yang tidak mempercayainya berdosa, tapi tidak serta-merta gugur imannya. Kenapa? Sebab, dasar yang dipakai seperti Surah An-Najm ayat 5–18 tidak secara eksplisit menyebut Mikraj. Belum lagi hadis-hadis yang merincikan peristiwa ini masih diperselisihkan kesahihannya.
Tapi, kalau dipikir-pikir, menurut hemat saya, bukankah Isra dan Mikraj itu satu paket? Kalau kita sudah sepakat Isra terjadi dengan jasad dan ruh dalam satu malam, dan itu wajib diimani, maka logikanya Mikraj juga begitu. Keduanya adalah satu kesatuan mukjizat yang tak terpisahkan dari Nabi Muhammad.
Isra Mikraj dan Urgensi Iman
Pelajaran terbaik, tentu saja, datang dari sumber yang pasti. Dan Al-Qur’an adalah sumber itu. Kandungannya mutlak, relevan sepanjang masa. Dari situlah kita bisa mengambil tuntunan hidup yang paling jelas.
Sayangnya, sejarah seringkali tak semudah itu. Ia penuh dengan debat dan versi yang berbeda-beda. Alih-alih belajar dari masa lalu, kita malah kerap mengulangi kesalahan yang sama. Itu karena sejarah jarang memberi kepastian. Dan sesuatu yang tidak pasti, sulit sekali dijadikan pedoman.
Isra Mikraj pun begitu. Sebagai peristiwa besar, ia tak lepas dari silang pendapat. Kapan tepatnya, di mana lokasi pastinya, semua itu masih jadi bahan diskusi. Tapi, menurut saya, umat Islam nggak perlu terlalu sibuk dengan perbedaan-perbedaan teknis semacam itu.
Seperti ditulis Syekh Mahmud Syaltut, seharusnya kita memperingati Isra Mikraj dalam koridor keyakinan dan ketenangan, bukan dalam kegelisahan karena dugaan-dugaan yang tak berujung. Peringatannya harus memberi ilham, agar manfaatnya bisa kita rasakan dari tahun ke tahun, dari generasi ke generasi.
Intinya, peristiwa ini hanya bisa didekati dengan iman. Jangan coba-coba mengukur Isra Mikraj dengan kacamata ilmiah atau filosofis semata. Hasilnya nggak akan memuaskan. Soalnya, ilmu pengetahuan bekerja berdasarkan pengamatan berulang atau eksperimen. Sementara Isra Mikraj terjadi hanya sekali, dan itu di luar kebiasaan alam. Makanya ia disebut mukjizat.
Jadi, ya, Isra Mikraj ini bagian dari pilar iman kita kepada kerasulan Nabi Muhammad. Pelajaran darinya hanya akan sampai pada orang yang beriman. Bukan untuk mereka yang dari awal sudah menutup hati.
Secara garis besar, peristiwa ini memang pasti terjadi. Tapi soal detailnya, para ulama boleh berbeda pendapat. Tugas kita adalah meyakininya, lalu mengambil hikmah sebanyak-banyaknya. Jangan sampai perdebatan kecil malah membuat kita lupa pada inti pelajarannya.
Penutup
Jadi, kesimpulannya, Isra Mikraj adalah mukjizat Nabi Muhammad yang wajib diimani. Meski detail sejarahnya bisa diperdebatkan, itu tidak mengurangi keagungan peristiwanya. Perbedaan pendapat dalam khazanah keilmuan Islam itu wajar. Yang tidak wajar adalah jika kita jadi sibuk berdebat hingga lupa mengambil pelajaran spiritualnya.
Sikap yang tepat adalah percaya dengan penuh keyakinan, lalu menjadikan peristiwa ini sebagai sumber inspirasi dan penenang jiwa. Dengan begitu, Isra Mikraj tidak jadi sekadar cerita masa lalu, tapi terus hidup memberi pencerahan bagi kehidupan kita sekarang.
Wallāhu a’lam.
Zuhaili Zulfa, S.Pd., Guru Pendidikan Agama Islam, lulusan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Artikel Terkait
Dinas Peternakan Bone Perketat Pengawasan Hewan Kurban Jelang Idul Adha
Remaja 17 Tahun Ditahan Usai Bawa Kabur Pelajar Perempuan Selama Tiga Bulan
Nottingham Forest Kandaskan Porto, Lolos ke Semifinal Liga Europa
Aston Villa Hancurkan Bologna 4-0, Lolos ke Semifinal Liga Europa