Isra Mikraj: Antara Keyakinan dan Polemik yang Tak Pernah Usai

- Rabu, 14 Januari 2026 | 12:25 WIB
Isra Mikraj: Antara Keyakinan dan Polemik yang Tak Pernah Usai

Seperti ditulis Syekh Mahmud Syaltut, seharusnya kita memperingati Isra Mikraj dalam koridor keyakinan dan ketenangan, bukan dalam kegelisahan karena dugaan-dugaan yang tak berujung. Peringatannya harus memberi ilham, agar manfaatnya bisa kita rasakan dari tahun ke tahun, dari generasi ke generasi.

Intinya, peristiwa ini hanya bisa didekati dengan iman. Jangan coba-coba mengukur Isra Mikraj dengan kacamata ilmiah atau filosofis semata. Hasilnya nggak akan memuaskan. Soalnya, ilmu pengetahuan bekerja berdasarkan pengamatan berulang atau eksperimen. Sementara Isra Mikraj terjadi hanya sekali, dan itu di luar kebiasaan alam. Makanya ia disebut mukjizat.

Jadi, ya, Isra Mikraj ini bagian dari pilar iman kita kepada kerasulan Nabi Muhammad. Pelajaran darinya hanya akan sampai pada orang yang beriman. Bukan untuk mereka yang dari awal sudah menutup hati.

Secara garis besar, peristiwa ini memang pasti terjadi. Tapi soal detailnya, para ulama boleh berbeda pendapat. Tugas kita adalah meyakininya, lalu mengambil hikmah sebanyak-banyaknya. Jangan sampai perdebatan kecil malah membuat kita lupa pada inti pelajarannya.

Penutup

Jadi, kesimpulannya, Isra Mikraj adalah mukjizat Nabi Muhammad yang wajib diimani. Meski detail sejarahnya bisa diperdebatkan, itu tidak mengurangi keagungan peristiwanya. Perbedaan pendapat dalam khazanah keilmuan Islam itu wajar. Yang tidak wajar adalah jika kita jadi sibuk berdebat hingga lupa mengambil pelajaran spiritualnya.

Sikap yang tepat adalah percaya dengan penuh keyakinan, lalu menjadikan peristiwa ini sebagai sumber inspirasi dan penenang jiwa. Dengan begitu, Isra Mikraj tidak jadi sekadar cerita masa lalu, tapi terus hidup memberi pencerahan bagi kehidupan kita sekarang.

Wallāhu a’lam.

Zuhaili Zulfa, S.Pd., Guru Pendidikan Agama Islam, lulusan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.


Halaman:

Komentar