Khamenei merasa puas. Menurut penilaiannya, unjuk rasa pro-pemerintah ini berhasil menggagalkan rencana-rencana pihak asing.
Namun begitu, tekanan dari Washington justru makin menjadi. Presiden Donald Trump mengeluarkan ancaman baru yang tak kalah keras, kali ini menyangkut urusan perdagangan.
Melalui akun media sosialnya @realDonaldTrump pada Selasa (13/1), Trump mengancam akan mengenakan tarif 25 persen bagi negara mana pun yang berani berbisnis dengan Iran. Ancaman sanksi itu, klaimnya, bersifat final dan mengikat. "Berlaku segera," tulisnya, menegaskan ketentuan itu mencakup seluruh kegiatan bisnis mereka dengan Amerika Serikat.
Di sisi lain, muncul klaim menarik dari Gedung Putih yang justru mengisyaratkan adanya dialog di balik layar. Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, mengungkapkan bahwa Iran disebutkan menyampaikan dua wajah yang berbeda.
“Apa yang disampaikan rezim Iran secara terbuka sangat berbeda dengan pesan-pesan yang mereka sampaikan kepada Amerika Serikat dan pemerintahan Trump secara tertutup,” ujar Leavitt dalam wawancara dengan Fox News, seperti dilansir Al Jazeera.
Klaim ini muncul di tengah maraknya pernyataan kecaman pejabat Tehran terhadap Trump, yang mereka tuding berada di balik kerusuhan. Meski demikian, Leavitt sama sekali tidak merinci lebih jauh. Bagaimana bentuk komunikasi tertutup itu, atau isinya seperti apa, tetap menjadi misteri.
Artikel Terkait
Indonesia Tawarkan Mediasi Langsung Presiden untuk Redakan Ketegangan AS-Iran
Indonesia Tawarkan Mediasi, Serukan Deeskalasi Usai Serangan AS-Israel ke Iran
AS dan Israel Lancarkan Serangan Langsung ke Iran, Timur Tengah di Ambang Konflik Terbuka
Tiga Eks Kapolres Alami Rotasi dalam Mutasi Polri Akhir Februari 2026