Aksi-aksi seperti ini membuktikan kalau generasi muda nggak cuma pasif nunggu perubahan dari atas. Mereka justru pionir yang bergerak dari bawah, menawarkan solusi kreatif untuk masalah ketidakmerataan. Lebih dari sekadar kegiatan sosial, ini adalah bentuk kesadaran bahwa kualitas bangsa ditentukan oleh kualitas pendidikan generasinya.
Mutu Belajar: Literasi, Numerasi, dan PISA
Soal kualitas belajar, PR kita masih banyak. Hasil PISA 2022 menempatkan Indonesia jauh di bawah rata-rata OECD. Skor untuk membaca, matematika, dan sains masih rendah. Bahkan, cuma 25 persen siswa kita yang mencapai level minimal dalam membaca. Hasil Asesmen Nasional 2023 juga menunjukkan capaian literasi dan numerasi yang masih perlu dikejar.
Di titik inilah peran pemuda harus lebih nyata. Mereka nggak boleh cuma jadi penerima manfaat, tapi juga penggerak inovasi. Pemuda yang melek teknologi bisa bikin metode belajar kreatif, kayak gamifikasi atau pembelajaran mikro yang lebih interaktif. Gerakan literasi berbasis komunitas, seperti taman baca atau klub diskusi, juga bisa meningkatkan budaya baca di luar sekolah.
Jadi, jangan cuma pegang smartphone buat scroll media sosial atau main game. Manfaatkan untuk hal yang lebih produktif: literasi dan melek teknologi. Dengan kreativitas dan jejaring yang dimiliki, pemuda bisa jadi motor penggerak perubahan dalam ekosistem pendidikan kita.
Pendidikan Tinggi dan Relevansi Dunia Kerja
Akses ke pendidikan tinggi masih terbatas. Angka Partisipasi Kasar (APK) perguruan tinggi baru sekitar 31,45%. Itu artinya, masih banyak anak muda yang nggak bisa kuliah, terutama di pedesaan karena keterbatasan biaya dan infrastruktur.
Tapi tantangannya nggak cuma soal akses. Relevansi pendidikan tinggi dengan dunia kerja juga jadi masalah. Tingkat pengangguran lulusan S1 masih sekitar 5,18%, pertanda ada skill mismatch yang serius. Banyak yang punya ijazah, tapi kompetensinya nggak cocok dengan kebutuhan industri.
Menyikapi ini, pemuda nggak bisa cuma mengandalkan kurikulum kampus. Mereka harus aktif upskilling dan reskilling mandiri, lewat kursus daring atau pelatihan vokasi. Semangat kewirausahaan juga perlu ditumbuhkan. Banyak start-up berbasis teknologi yang digagas anak muda ternyata mampu menciptakan lapangan kerja baru. Dengan begitu, pemuda bisa jadi pencipta kerja, bukan cuma pencari kerja.
Iptek, Inovasi, dan Produktivitas
Di era global, kekuatan suatu bangsa ditentukan oleh inovasi dan penguasaan iptek. Sayangnya, posisi Indonesia dalam Global Innovation Index masih rendah, peringkat 61 dari banyak negara. Pengeluaran untuk riset juga masih kecil sekali, cuma 0,28% dari PDB. Sementara, tantangan produktivitas dan pengangguran masih nyata.
Dalam kondisi seperti ini, generasi muda harus tampil sebagai motor penggerak. Mahasiswa dan komunitas kreatif bisa mengembangkan solusi berbasis teknologi, membangun social enterprise, atau bikin aplikasi yang menjawab kebutuhan riil masyarakat. Contohnya, ada start-up MASA AI yang didirikan mahasiswa Indonesia di Silicon Valley. Mereka pakai kecerdasan buatan untuk bantu tingkatkan kemampuan bahasa Inggris.
Di tengah arus informasi yang deras, pemuda jangan sampai terjebak jadi konsumen pasif. Mereka harus bisa lihat peluang dalam teknologi untuk menciptakan karya. Kuncinya dimulai dari meningkatkan literasi teknologi dan menguasai bahasa asing.
Inovasi nggak harus menunggu lab mewah atau modal miliaran. Bisa dimulai dari tekad dalam diri sendiri: kesadaran untuk terus berkreasi dan berkolaborasi. Dengan memadukan teknologi, solidaritas, dan semangat wirausaha, pemuda bisa bantu tingkatkan produktivitas nasional dan daya saing Indonesia.
Kesimpulan
Data-data tadi memang menunjukkan tantangan yang besar: dari rata-rata lama sekolah yang masih pendek, capaian literasi yang rendah, akses pendidikan tinggi yang timpang, sampai investasi riset yang minim.
Tapi, di balik setiap tantangan selalu ada peluang. Dengan kreativitas, pemanfaatan teknologi, dan kepedulian sosial, pemuda bisa jadi penggerak utama untuk mencapai pendidikan berkualitas (SDGs 4). Mereka bukan sekadar penonton atau penerima manfaat, melainkan aktor yang bisa memperluas akses, meningkatkan mutu pembelajaran, dan memperkuat ekosistem inovasi.
Kalau generasi muda konsisten mengisi ruang-ruang kosong ini, maka cita-cita Indonesia Emas 2045 bukan mustahil diwujudkan. Menjadi bangsa yang berdaya saing global, berfondasi pendidikan kuat, dan punya generasi muda yang tangguh. Semuanya bisa diawali dari aksi-aksi kecil yang nyata, dimulai dari diri sendiri.
Artikel Terkait
KIP Menangkan Gugatan, Ijazah Jokowi Wajib Dibuka ke Publik
Cemburu Membara, Terapis Tewas Dicekik Suami di Kos Bekasi
Kisah Gamma dan Kenaikan Pangkat yang Menyisakan Pertanyaan
Senioritas Menyimpang di PPDS Unsri: Korban Terpaksa Biayai Gaya Hidup Hingga Lakukan Percobaan Bunuh Diri