Pendidikan Berkualitas: Kunci Pemuda Menuju Indonesia Emas 2045

- Rabu, 14 Januari 2026 | 05:06 WIB
Pendidikan Berkualitas: Kunci Pemuda Menuju Indonesia Emas 2045

Kualitas, bukan cuma kuantitas. Itu intinya. Semboyan ini harusnya jadi pegangan bagi para pemuda dan pengambil kebijakan di bidang pendidikan. Soalnya, pendidikan yang berkualitas adalah fondasi utama untuk membangun masa depan bangsa. Dengan pendidikan yang baik, generasi muda nggak cuma dapat pengetahuan, tapi juga keterampilan dan karakter yang bikin mereka siap hadapi tantangan zaman.

Nah, ini sejalan banget dengan Sustainable Development Goals (SDGs) yang dicanangkan PBB sejak 2015. Dari 17 tujuan itu, ada satu yang fokus ke pendidikan: SDGs 4. Tujuannya jelas, ingin memastikan pendidikan yang berkualitas, inklusif, dan adil, plus kesempatan belajar seumur hidup buat semua orang.

Di Indonesia sendiri, fokus pada pendidikan ini sudah jadi amanat konstitusi, yaitu untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Komitmen ini kemudian diperkuat dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2024–2029. Dokumen itu menempatkan penguatan SDM, pendidikan, dan inovasi sebagai agenda strategis utama untuk mendongkrak daya saing.

Tapi, jangan senang dulu. Kenyataannya di lapangan masih jauh dari kata ideal. Tantangan kualitas pendidikan untuk pemuda masih sangat besar. Data BPS 2023 mencatat Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia memang naik jadi 74,39. Namun, angka itu belum sepenuhnya mencerminkan pemerataan kualitas SDM muda di seluruh daerah.

Ambil contoh, pemuda di Papua dan Papua Barat. Kesempatan belajar mereka jauh lebih terbatas dibandingkan dengan teman-teman seusianya di Jakarta atau Yogyakarta. Namun begitu, faktor internal dari diri pemuda sendiri juga nggak kalah penting. Motivasi, disiplin, dan rasa ingin tahu adalah kunci utamanya. Bahkan saat fasilitas kurang memadai, semangat belajar mandiri bisa mengatasi banyak keterbatasan. Sebaliknya, tanpa tekad dari dalam, peluang sebesar apapun bisa jadi sia-sia.

Masalah lain datang dari soal keterampilan. Laporan World Economic Forum (WEF) tahun 2023 menyoroti adanya skill gap yang menganga, terutama di literasi digital, berpikir kritis, dan inovasi. Padahal, skill inilah yang paling dicari di era digital sekarang.

Banyak lulusan yang akhirnya kewalahan menghadapi dunia kerja karena kurang bekal yang relevan. Ini membuktikan bahwa pendidikan nggak boleh cuma mengejar jumlah lulusan. Kualitas adalah segalanya. Dan kualitas itu, lagi-lagi, sangat bergantung pada sikap internal si pemuda itu sendiri.

Semangat untuk terus belajar, berani mencoba hal baru, dan mau beradaptasi dengan teknologi; itulah yang bakal membedakan antara pemuda yang siap bersaing dan yang cuma jadi penonton.

Peran pemuda sebagai agen perubahan nggak boleh berhenti di wacana. Harus ada aksi nyata yang lahir dari kesadaran diri sendiri. Kekuatan terbesar generasi muda sebenarnya ada pada kemampuan memimpin diri sendiri: punya semangat belajar yang konsisten, berani keluar dari zona nyaman, dan terus mengasah kreativitas.

Dengan modal itu, mereka bisa melahirkan gagasan baru, membangun jejaring, dan menciptakan solusi yang benar-benar dibutuhkan masyarakat. Inovasi-inovasi kecil dari desa atau kampus bisa jadi fondasi perubahan yang besar. Kalau tekad ini terus dipupuk, pemuda bukan cuma penerus, tapi juga penentu arah peradaban.

Pemuda yang berkualitas akan membawa Indonesia melangkah lebih percaya diri menuju visi 2045.

Seperti kata Nelson Mandela,

"Ketika pemuda memiliki visi, semangat, dan tekad yang kuat, mereka mampu mengubah dunia."

Pemerataan Pendidikan: Tantangan dan Harapan

Isu pemerataan pendidikan di Indonesia masih serius. Menurut BPS, rata-rata lama sekolah penduduk usia 15 tahun ke atas baru sekitar 9,22 tahun. Targetnya naik jadi 9,82 tahun pada 2029. Mayoritas masyarakat kita baru lulus SMP, meski harapan untuk sekolah lebih lama sebenarnya ada.

Kesenjangan antar daerah pun timpang. Di Papua Pegunungan, rata-rata lama sekolah cuma 5,10 tahun. Bandingkan dengan DKI Jakarta yang lebih dari 11 tahun. Ini menunjukkan masalahnya bukan cuma soal berapa banyak yang sekolah, tapi juga kesempatan nyata untuk mendapatkan pendidikan yang layak.

Di sinilah aksi pemuda jadi kunci. Peran mahasiswa dan komunitas muda sangat dibutuhkan untuk jadi agen perubahan di tengah keterbatasan. Program seperti Kampus Mengajar memberi ruang bagi mahasiswa untuk membantu di sekolah-sekolah daerah 3T, mengisi kekurangan guru sekaligus memotivasi siswa.

Di beberapa tempat, anak-anak muda juga inisiatif bikin gerakan literasi digital. Mereka buka kelas baca gratis, dirikan perpustakaan komunitas, atau sebarkan konten edukatif di media sosial. Komunitas belajar daring yang mereka gagas bisa menjangkau siswa yang kesulitan akses pendidikan formal.


Halaman:

Komentar