Koruptor: Kejahatan Tanpa Ideologi yang Lebih Kosong dari Teror

- Selasa, 13 Januari 2026 | 10:00 WIB
Koruptor: Kejahatan Tanpa Ideologi yang Lebih Kosong dari Teror

✍🏻 Erizeli Jely Bandaro

Kita seringkali dibuat ngeri oleh kata terorisme. Tapi, coba kita pikirkan sejenak. Aksi teror biasanya lahir dari sebuah keyakinan, meskipun keyakinan itu jelas-jelas keliru dan sesat. Pelakunya merasa sedang berjuang untuk sesuatu yang lebih besar agama, ideologi, atau kebenaran versinya sendiri. Mereka salah, bahkan biadab, tapi dalam benak mereka ada narasi pengorbanan. Ada 'alasan' yang mereka pegang, betapa pun bobroknya.

Nah, sekarang bandingkan dengan koruptor.

Di sisi lain, korupsi adalah kejahatan yang benar-benar hampa. Tak ada ideologi yang dibela. Tak ada kebenaran yang diperjuangkan. Yang ada cuma kekosongan nilai. Satu-satunya pengorbanan yang terjadi adalah pengorbanan orang lain, bukan dirinya.

Koruptor itu lebih jahat. Bukan cuma soal dampaknya yang luas, tapi lebih ke niat di baliknya yang seratus persen egois. Bayangkan, ia merampas hak-hak jutaan orang bukan untuk sebuah cita-cita mulia, melainkan sekadar demi menumpuk harta, beli mobil mewah, atau hidup berfoya-foya. Masa depan anak-anak dicuri, pembangunan ditunda, kemiskinan dipelintir jadi lebih panjang semua dilakukan dengan tenang, tanpa malu, dan tanpa pembenaran moral apa pun. Kalau dilihat dari kacamata spiritual, ini bentuk kejahatan yang paling kosong.

Lebih dari sekadar melanggar hukum, koruptor itu mengkhianati amanah hidup. Setiap jabatan sejatinya titipan. Setiap wewenang adalah ujian. Setiap tanda tangan di atas dokumen anggaran, misalnya, seharusnya dipertanggungjawabkan bukan cuma di depan sesama manusia, tapi juga di hadapan Yang Maha Melihat. Tapi koruptor memilih menukar semua itu dengan kenikmatan sesaat. Dia sadar betul perbuatannya salah, tapi tetap dilakoni. Di situlah letak kehinaannya. Kejahatan yang dilakukan dalam keadaan sadar penuh, dingin, dan penuh perhitungan.

Teroris mungkin menghancurkan sebuah gedung atau sebuah pasar. Koruptor? Dia menghancurkan seluruh sistem. Teroris menebar ketakutan yang terlihat, yang langsung menggemparkan. Sementara koruptor menciptakan penderitaan yang sunyi pelan, sistematis, dan bakal diwariskan ke anak-cucu. Dalam banyak ajaran, pengkhianatan terhadap amanah dianggap lebih berat dosanya ketimbang dosa yang lahir dari amarah atau fanatisme buta. Kenapa? Karena amarah bisa muncul dari kebodohan, fanatisme dari kesesatan pikiran. Tapi korupsi murni lahir dari keserakahan yang dipelihara, dari hati yang sengaja membungkam nurani demi kenyamanan diri sendiri.

Tulisan ini cuma pengingat saja, sih. Ujian hidup itu bukan terletak pada tinggi-rendahnya jabatan kita, tapi pada bagaimana kita memperlakukan kepercayaan yang diberikan. Kita nggak pernah tahu kapan 'kekuasaan' kecil itu datang. Bisa dalam bentuk sebuah kesempatan, sebuah keputusan, atau sedikit pengaruh. Di situlah karakter kita diuji.

Jangan sekali-kali iri pada kekayaan hasil korupsi. Itu nggak bawa berkah, cuma menunda kehancuran. Jangan pula kagum pada kemewahan yang dibangun dari pengkhianatan. Itu nggak akan memberi ketenangan, malah menambah ketakutan tersembunyi.

Buat yang lagi di persimpangan, ingat ini: hidup bersih mungkin terasa berat di awal, tapi ringan di ujung jalan. Sebaliknya, hidup dari korupsi terasa mudah dan enak di awal, tapi bakal memberatkan sepanjang sisa umur. Sebab, pada akhirnya, yang paling menakutkan bukanlah hukuman dari manusia. Melainkan keheningan dalam hati sendiri saat kita tahu telah mengkhianati diri sendiri. (")

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar