Kritik untuk Gibran, Kenapa Harus Berakhir dengan Bullying ke Jan Ethes?

- Senin, 12 Januari 2026 | 16:00 WIB
Kritik untuk Gibran, Kenapa Harus Berakhir dengan Bullying ke Jan Ethes?

✍🏻 Viena Effendy

Begitu Pandji menyebut-nyebut nama Jan Ethes, rasanya wajar kalau banyak yang geram dan ikut membully anak Pandji itu. Saya sendiri mungkin bakal ikut-ikutan kalau melihat hal seperti itu terjadi.

Tapi ini kan beda kasus. Cuma dibilang "mata ngantuk" saja, kok. Lalu tiba-tiba ada yang berkomentar, "Gibran juga anak orang, bagaimana perasaan orang tuanya kalau dia dihina?"

Ya ampun, Gibran kan bukan anak di bawah umur lagi. Dia sudah punya keluarga sendiri. Lagi pula, statusnya sebagai pejabat publik yang digaji uang rakyat membuatnya wajar mendapat kritik bahkan yang sedikit menyentil dari masyarakat.

Di sisi lain, coba lihat tingkah kalian sendiri. Ngehina Megawati dengan sebutan nenek lampir, atau menyebut Pigai gorila. Itu juga terjadi, kan?

Belum lagi soal Fufufafa yang kerap menghina Prabowo dan anaknya, Didiet, dengan kata-kata yang cukup brutal.

Mungkin ini semacam karma, ya.

Kalau memang tidak terima dengan ucapan Pandji, hadapi saja langsung orangnya. Kan sama-sama sudah dewasa. Jangan malah menyasar anaknya yang masih di bawah umur. Alasan "Gibran juga anak orang" atau "anaknya Jokowi" terdengar menggelikan. Memang iya, dia anak presiden, tapi dia bukan anak kecil yang perlu dilindungi oleh UU Perlindungan Anak.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar